Selepas Ramadhan Pergi

gb. mutiarapublic.com
Dua pekan sudah bulan ramadhan pergi meninggalkan kita, meninggalkan jejak keindahan yang telah kita akrabi bersama selama satu bulan. Bulan yang penuh dengan keberkahan, penuh rahmat serta ampunan. Setiap kita berlomba-lomba memanfaatkan moment spesial yang tidak kita dapati di bulan-bulan lainnya. Seketika itu, kuantitas ibadah sholat kita jadi meningkat, kuantitas sedekah kita menjadi bertambah, bacaan qur’an kita khatam berkali-kali, begitu mengagumkan! Tiba-tiba, setiap kita bagaikan menjadi hamba-hamba yang begitu dekat dengan Robb-Nya. Tapi.... benarkah demikian...???

Memprioritaskan Kualitas Ketimbang Kuantitas

Ketika kita berbangga-bangga dengan kuantitas ibadah yang kita lakukan selama ramadhan, ternyata banyak dari kita terlupa akan kualitas ibadah yang seharusnya jadi prioritas. Dan yang menjadi tolak ukur kualitas amal ibadah kita selama ramadhan adalah justru dilihat selepas ramadhan. Disinilah yang bisa membuktikan, apakah ibadah ramadhan yang dilakukan telah mampu menjadikan kita menjadi hamba Robbani, ataukah sekedar menjadi hamba Ramadhani setahun sekali??

Coba perhatikan sekitar kita setelah ramadhan berlalu. Apakah nuansanya masih sama? Apakah gairah beribadah kita masih bergelora? Apakah dirumah kita ada kelanjutan sekedar kumpul makan bersama keluarga? Masihkah dinding-dinding ruang bergetar oleh merdunya bacaan qur’an? Masihkah karpet permadani dan sajadah menghampar sebagai tempat kita bersimpuh serta bersujud sekeluarga?

Kenyataan yang banyak terjadi, boleh membuat hati kita menjadi miris! Sebab, nuansa keindahan ramadhan lambat laun seperti tidak meninggalkan bekas. Ketika kesibukan mulai melingkari diri sedemikian hebatnya, ketika hiruk pikuk dunia kembali mencabar keangkuhan sedemikian garangnya, maka seolah-olah tak ada lagi kelonggaran ataupun ruang untuk beribadah dan beramal sholih. Ramadhan pergi, maka ruh kita pun kembali berpuasa lagi... Innalillahi...

Bulan Syawal ini adalah kelanjutan dari Bulan Ramadhan. Sehingga makna dari bulan Syawal itu seharusnya adalah peningkatan dari bulan sebelumnya (Ramadhan). Dimana orientasi dari ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan tidak lain adalah pencapaian derajat “Taqwa”. Coba kita renungkan, jika setiap kita berhasil lulus menggapai gelar taqwa, maka niscaya gairah ibadah kita akan terus meningkat. Masjid serta mushola akan selalu ramai dan lebih hidup, rumah dan lingkungan sekitar kita penuh cahaya keberkahan, bahkan “problem sosial” pun akan teratasi lantaran setiap orang semakin menyadari pentingnya berinfaq dan bersedekah.


Tradisi Mudik di Bulan Syawal

Khusus di Indonesia dan juga umumnya di negeri-negeri tetangga dan sekitarnya, ada tradisi atau kebiasaan unik ketika tiba bulan Syawal selepas Ramadhan, yaitu tradisi “mudik” atau “pulang kampung”. Ini adalah tradisi setahun sekali memanfaatkan libur hari raya untuk menyambung tali silaturahim, kembali berkumpul bersama keluarga tercinta di kampung halaman. Jarak tempuh yang jauh tak jadi halangan, dana tabungan terkuras tak jadi penyesalan. Itu semua dilakukan demi untuk bisa jatuh bersimpuh di kaki ayah bunda ataupun pusaranya. Atau demi melepas rindu pada anak istri yang telah ditinggal bekerja setahun lamanya. Nuansa Syawal menjadi begitu indah mengharukan, sekaligus penuh air mata kebahagiaan dan keceriaan.
Tradisi mudik yang setahun sekali ini menjadi salah satu motivasi kebanyakan orang yang tengah berjuang mendulang nasib di tanah perantauan. Mereka rela berlelah-lelah, bersusah payah mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, yang salah satu tujuannya adalah untuk bekal pulang kampung saat hari raya tiba.

Barangkali lantaran hal inilah yang menyebabkan sebagian orang hanya berhasil menjadi hamba Ramadhani. Karena selepas Ramadhan mereka kembali disibukkan oleh rutinitas kerja setahun lamanya.
  
Padahal seharusnya, momentum bulan Ramadhan menjadi wasilah (sarana) bagi setiap kita untuk memperbaiki kualitas ibadah, sekaligus membentuk jiwa raga menjadi manusia-manusia Rabbani, dan bukan sekedar menjadi manusia Ramadhani setahun sekali!

Bulan Ramadhan seharusnya dijadikan sebagai sarana pelatihan dan pembiasaan beribadah yang maksimal. Pintu-pintu taubat yang dibuka selebar-lebarnya oleh Allah SWT. menjadi kesempatan terbaik untuk mensucikan diri dari noda dosa yang pernah dilakukan. Sehingga meskipun Ramadhan telah berlalu, jiwa raga kita tetap dalam kondisi bersih, dan amal ibadah kita juga tetap terjaga, baik kuantitas maupun kualitasnya. Maka jadilah kita tergolong hamba-Nya yang bertaqwa. Yang tetap istiqomah dalam kancah kebaikan dan kepatuhan, sebagai bekal mudik kita yang sebenarnya, yakni mudik ke kampung akhirat, kampung tempat kita kembali yang sebenar-benarnya. Allah Ja’ala jalalu berfirman:


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.

(QS. Ali Imran, 3 : 133)


(Erbil Laksono, pen)
=============================================================

Ponpes Al Ikhwan menerima Zakat, Infaq, Shadaqoh dari Bapak/Ibu sekalian yang muhsinin.
Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk biaya hidup serta pendidikan anak-anak yatim piatu dan dhuafa, serta operasional pondokan sehari-hari. 
Kami menghaturkan "jazakumullah khairan katsir" kepada para donatur yang telah menyalurkan zakat, infaq dan shadaqohnya melalui Pondok Pesantren Al Ikhwan Setu Bekasi. Semoga apa yang telah dikeluarkan akan menjadi penyempurna sekaligus pelengkap amal sholih yang akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. In sya Allah.

Lebih lanjut Klik Disini!

No comments:

Post a Comment