TUTUPLAH MASA LALU, DAN BUKALAH MASA DEPAN!!!

Membuka Lembaran Hidup Baru  sering dikaitkan dengan hidup baru seperti saat kita baru kuliah, baru menikah, baru masuk ke perusahaan baru, baru pindah ke rumah baru, memasuki tahun baru, setelah Idul Fitri, dan sebagainya. Ya, itu bisa dikatakan lembaran hidup baru, namun bukan hanya itu. Anda bisa membuka lembaran baru Anda setiap hari. Ya, setiap hari.

Lembaran hidup baru bukan berarti sekedar hidup yang baru atau hidup yang berbeda dengan yang sebelumnya. Membuka lembaran hidup baru bukan hanya setelah terjadi perubahan, justru membuka lembaran hidup baru adalah momen perubahan ke arah hidup yang lebih baik. Bukalah lembaran hidup baru setiap hari agar Anda mendapatkan momen perubahan setiap hari yang artinya perbaikan diri setiap hari.
Membuka Lembaran Hidup Baru Artinya Menutup Lembaran Lama
Tidak peduli bagaimana kelamnya masa lalu, hidup dipenuhi dosa dan kegagalan demi kegagalan, Anda bisa menatap masa depan yang lebih baik. Kita harus menutup lembaran lama agar tidak menjadi beban dan memberatkan langkah kita di masa depan. Jika kita terus menatap lembaran lama, maka kita tidak akan ada waktu untuk membuka lembaran baru yang justru ini yang terpenting bagi hidup kita karena kita hanya melangkah ke depan.

Bagaimana pun dosa kita membumbung setinggi gunung, namun Allah Maha Pengampun, jika kita benar-benar taubat, insya Allah, Allah akan mengampuni dosa kita. Sudah banyak dalil-dalil yang menjelaskan bahwa Allah akan mengampuni semua dosa kita.

Karena sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat: 12)

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Zumar: 53)

Bahkan jika kita melakukan dosa syirik, kemudian kita berhenti dari kesyirikan tersebut dan berubah mentauhidkan Allah, maka dosa kita pun akan diampuni.

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Furqan: 68-70)

Kuncinya adalah saat kita mati, kita tidak lagi menyekutukan Allah

Siapa yang mati sedangkan ia tidak menyekutukan Allah dengan apapun juga, pasti ia masuk surga. Siapa yang mati dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)

Jadi, menutup lembaran lama dari dosa-dosa ialah dengan bertaubat yang sebenar-benarnya. Kemudian menutup lembaran lama dari kegagalan demi kegagalan ialah dengan melakukan evaluasi atau muhasabah dan memaafkan diri sendiri atau siapa pun yang terlibat atas kegagalan tersebut.

Menjadikan Masa Lalu Sebagai Bekal Masa Depan

 

Kita menutup lembaran lama agar tidak lagi menjadi beban, namun bukan berarti kita tidak memanfaatkan masa lalu karena semua itu pasti ada hikmahnya bagi kita. Keberhasilan masa lalu, maka lanjutkan dan tingkatkan di masa depan. Kalau pun itu kesalahan dan kegagalan, maka ambilah hikmahnya dan jadikan sebagai bekal untuk masa depan kita. Hikmah dari masa lalu akan menjadikan kita lebih bijak dan pintar dalam mengambil keputusan saat ini.

Tekadkan dan Bertawakal Kepada Allah

 

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS.Ali ‘Imraan:159)

 

Tekadkan Anda untuk hidup lebih baik. Tekadkan untuk meraih pencapaian-pencapaian luar biasa. Tekadkan untuk meraih prestasi gemilang. Tekadkan untuk memberikan kontribusi kepada sesama. Tekadkan ….

 

Kemudian bertawakallah kepada Allah.

Menarik disini, bahwa tawakal diletakan setelah tekad (azam). Artinya tawakal bukan hanya diletakan setelah ikhtiar, tetapi juga setelah kita bertekad agar urusan kita menjadi mudah karena pertolongan Allah.

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS.Ali ‘Imraan:160)

(disalin dari: motivasi-islam.com)
=============================================================


Ponpes Al Ikhwan menerima Zakat, Infaq, Shadaqoh dari Bapak/Ibu sekalian yang muhsinin.
Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk biaya hidup serta pendidikan anak-anak yatim piatu dan dhuafa, serta operasional pondokan sehari-hari. 
Kami menghaturkan "jazakumullah khairan katsir" kepada para donatur yang telah menyalurkan zakat, infaq dan shadaqohnya melalui Pondok Pesantren Al Ikhwan Setu Bekasi. Semoga apa yang telah dikeluarkan akan menjadi penyempurna sekaligus pelengkap amal sholih yang akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. In sya Allah.

Lebih lanjut Klik Disini!

IBRAH DARI DUA MOMENT BERSEJARAH DI BULAN DZULHIJJAH

Ada dua moment penting bersejarah yang menyapa kita di setiap penghujung akhir tahun hijriyah, di bulan Dzulhijjah: Ibadah haji dan Idul Qurban. Keduanya menyempurnakan ritual ibadah seorang muslim. Banyak ibrah dan pelajaran yang bisa diambil dari dua moment ini.

Haji Mabrur Balasannya Surga
Mendapatkan surga adalah puncak kesuksesan yang dirindukan setiap muslim. Rasulullah SAW menginformasikan bahwa “Haji Mabrur Balasannya adalah Surga.” Maka jutaan kaum muslimin berdatangan memenuhi panggilan Allah untuk meraih keridhaanNya.

Karena balasannya begitu besar, ibadah haji tidak sekedar upacara ritual semata, melainkan penuh dengan banyak pesan 3 dan pelajaran. Ibadah haji adalah pembelajaran bagi calon penghuni surga, kehidupan setelah haji terbingkai dengan nilainilai yang diamanatkan Allah lewat rangkaian ibadah di dalamnya.

Miqat Simbol Ketaatan
Saat memasuki miqat (batas mulai ihram) sesungguhnya terkandung pesan berharga, bahwa setiap jemaah haji dan kaum muslimin pada umumnya, memasuki batasan-batasan dan larangan yang harus ditinggalkan.

Abdullah bin Nu’man bin Bishr mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar-samar (syubhat), kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menjaga dirinya dari yang samar-samar tersebut, berarti ia telah menjaga agama dan kehormatannya, dan barangsiapa yang jatuh ke dalam wilayah syubhat, ia telah jatuh ke wilayah haram, seperti penggembala yang berada di sekeliling batas tanah gembalaan, lalu masuk ke dalamnya, ingatlah bahwa setiap raja memiliki padang gembalaan dan ingatlah bahwa padang gembala Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa dalam jasad ada sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasadnya, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa sekerat daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan pertama inilah yang disampaikan kepada para tamu Allah, sehingga saat kembali ke kehidupan keseharian terus melekat bahwa batasan Allah itu tidak boleh dilewati. Ambil yang halal, tinggalkan yang haram, dan jauhi yang syubhat. Seorang muslim cerdas dalam berinteraksi dan selalu menjaga batasan yang ditetapkan Allah baginya. Status social tidak lagi membuatnya menjadi orang yang angkuh, tidak arogan, sebab ia malu dan takut hanya kepada Allah SWT.

Tawaf Selaraskan Jiwa Sesuai Aturan Allah
Kemudian diikuti dengan thawaf, gerakan memutari ka’bah tujuh putaran, memberikan pesan bahwa kehidupan ini haruslah seiring dengan tuntunan Allah SWT, aktifitas kehidupannya harus bermuara kepada petunjuk Allah SWT. Bukankah kesempatan hidup yang diberikan sudah ditetapkan jalurnya?

Kita diberikan pilihan, dan pilihan terbaik sesuai dengan pilihan Allah. Lurusmengikuti tuntunan Allah, taat dan patuh, seperti ketaatan makhluk Allah disemesta raya, langit, bumi, matahari, bulan, bintang, semuanya berputar padaporosnya sesuai dengan perintah Allah.

Pedoman hidupnya senantiasa disandarkan kepada tuntutan Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Sebab hanya itu bukti bahwa kita tunduk dan cinta kepada Allah SWT. “Katakanlah, “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: Ali Imran (2): 31)

Mengikuti jalan selain Allah dan Rasulullah hanya akan membawa kepada kesesatan, tidak seirama dengan sunnatullah di alam raya, sehingga hanyamelahirkan kerusakan, pada individu, keluarga dan social masyarakat.

Sa’i, Lambang Perjuangan
Sa’i berlari kecil dari bukit Shafa menuju Marwa sebanyak tujuh kali, memberikan pelajaran berharga bahwa hidup harus penuh dengan perjuangan tidak kenal lelah sampai batas kemampuan. Sebentuk pelajaran dari Ibunda Hajar mencari air buat puteranya, Ismail, terus berusaha meski sering mendapatkan fatamorgana dan kegagalan. Sikap tawakkal penuh membutuhkan bukti usaha optimal. Dari segenap kemampuan yang dimiliki dan diusahakan, selanjutnya biarkan Allah yang memberikan hasil atas usaha yang kita lakukan.
Sa’i juga mengajarkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan, itu adalah janji Allah yang telah diabadikan Al-Qur’an, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS: As-Sharh (94): 5-6).

Wukuf Inti Ketundukan
Berlanjut dengan Wukuf di Arafah, berdiam di padang Arafah, rukun haji yang disebutkan Rasulullah SAW, “Haji adalah wukuf di Arafah” bertemu langsung sebagai tamu Allah, membayangkan pertemuan langsung dengan Allah di akhirat kelak, sebuah pertemuan yang pasti terjadi, milyaran manusia menunggu antrian hisab di pengadilan Allah. Moment wukuf memberikan pelajaran penting bahwa kita pasti dihisab Allah. Pertanyaan yang harus diajukan kepada diri kita, “Sudahkah diri kita siap dihisab Allah?”

Mengambil ibrah wukuf di Arafah di manapun kita berada, harus ada sejenak waktu untuk bermunajat kepada Allah, mengevaluasi diri, meminta ampunan Allah atas segala dosa dan kekhilafan sebagai manusia yang lemah, yang sering kali terperosok dalam tipu daya setan. Maka menghadirkan moment Arafah bisa mengerem kehendak buruk nafsu agar berhenti dan kembali kepada Allah, sebab Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengawasi dan Maha segalanya.

Setan Sebagai Musuh
Lalu ada lempar Jumrah, sebuah peristiwa bersejarah melempar setan yang hendak mengganggu upacara ibadah penyembelihan, sampai tiga kali, Ula, Wushta dan Aqabah, adalah cerminan bahwa kita tidak mau menyerah terhadap bisikan dan tipu daya setan dan bala tentaranya dari jin dan manusia. Sungguh sebuah perjuangan tersendiri, sebab setan melihat kita, sementara kita tidak bisa melihat mereka. Lemparan jumrah merupakan simbol bahwa kita menganggap setan sebagi musuh, dan musuh haruslah diperlakukan sebagai musuh, dimana pun berada, saat ramai, saat sepi, sebab ia mungkin jauh dikala ramai, dan datang saat sepi, membisiki hati dan menyuruhnya untuk bermaksiat kepada Allah.

Maka disinilah perjuangan melawan setan, terus kontinyu, tidak pernah bosan, tetap semangat, sampai kita bisa mengalahkannya.

Siap Berubah Lewat Tahallul
Dan berakhir dengan Tahallul, mencukur rambut sebagai simbol bahwa kita selesai dalam latihan, bahwa kita sudah menjad hamba Allah yang akan terus istiqomah dalam ketaatan, terus berjuang di tanah air sebagai pejuang yang baru saja mendapatkan training dari Allah. Kita bukan lagi hamba yang dahulu, kita adalah hamba yang sudah berjanji lewat ungkapan Talbiyah, “Kami datang memenuhi panggilan- Mu, tidak ada sekutu bagiMu, segala puji dan ni’mat adalah milikMu, semua kerajaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu. “ sebagai hamba yang bertauhid, yang telah dijanjikan surga, dan memantaskan diri sebagai calon penghuni surga, insya Allah.

Pengorbanan, Bukti Keimanan
Ibadah Qurban, hukumnya sunnah muakkadah, sebagai bukti ketaatan kepada Allah dengan mencontoh Rasulullah SAW. Ada banyak hikmah dalam peristiwa ini, yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an adalah penyerahan diri total Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail kepada Allah SWT. Bahwa perintah Allah meski terasa berat, namun tetap harus dilakukan, dan Allah Maha Mengetahui bahwa Ibrahim dan puteranya layak mendapatkan kemuliaan, di dunia dan akhirat. Maka ujian Allah kepada kaum muslimin adalah mengikuti proses pengorbanan dengan menyembelih hewan qurban, unta, sapi, kerbau atau kambing.

Pengorbanan ini sesungguhnya membuktikan sejauh mana kualitas keimanan seorang muslim. Karena iman memerlukan bukti, di bulan Dzulhijah salah satu bukti keimanan adalah berkurban. Secara social kurban sangat dirasakan manfaatnya oleh fakir miskin dan mereka yang membutuhkan. Pantaslah Rasulullah melarang mendekati musholla beliau bagi mereka yang memiliki kemampuan berkurban tetapi tidak mau menunaikannya, sebab di samping sebuah ketaatan berupa ibadah vertikal, kurban juga bersifat horizontal. Inilah keindahan suatu ibadah dalam Islam, terasa manfaatnya oleh manusia.

Semoga kita diberikan kemampuan untuk bisa berhaji serta berkurban…Amin ya Mujibas Sa’ilin.

sumber: www.alamanar.co.id

=============================================================
PANITIA QURBAN 1437 H
MENERIMA SERTA MENYALURKAN HEWAN  QURBAN ANDA...
DISINI LEBIH BANYAK MANFAATNYA, LEBIH TEPAT SASARANNYA
KONTAK: 0899 809 2447; 0812 8884 1970

Selepas Ramadhan Pergi

gb. mutiarapublic.com
Dua pekan sudah bulan ramadhan pergi meninggalkan kita, meninggalkan jejak keindahan yang telah kita akrabi bersama selama satu bulan. Bulan yang penuh dengan keberkahan, penuh rahmat serta ampunan. Setiap kita berlomba-lomba memanfaatkan moment spesial yang tidak kita dapati di bulan-bulan lainnya. Seketika itu, kuantitas ibadah sholat kita jadi meningkat, kuantitas sedekah kita menjadi bertambah, bacaan qur’an kita khatam berkali-kali, begitu mengagumkan! Tiba-tiba, setiap kita bagaikan menjadi hamba-hamba yang begitu dekat dengan Robb-Nya. Tapi.... benarkah demikian...???

Memprioritaskan Kualitas Ketimbang Kuantitas

Ketika kita berbangga-bangga dengan kuantitas ibadah yang kita lakukan selama ramadhan, ternyata banyak dari kita terlupa akan kualitas ibadah yang seharusnya jadi prioritas. Dan yang menjadi tolak ukur kualitas amal ibadah kita selama ramadhan adalah justru dilihat selepas ramadhan. Disinilah yang bisa membuktikan, apakah ibadah ramadhan yang dilakukan telah mampu menjadikan kita menjadi hamba Robbani, ataukah sekedar menjadi hamba Ramadhani setahun sekali??

Coba perhatikan sekitar kita setelah ramadhan berlalu. Apakah nuansanya masih sama? Apakah gairah beribadah kita masih bergelora? Apakah dirumah kita ada kelanjutan sekedar kumpul makan bersama keluarga? Masihkah dinding-dinding ruang bergetar oleh merdunya bacaan qur’an? Masihkah karpet permadani dan sajadah menghampar sebagai tempat kita bersimpuh serta bersujud sekeluarga?

Kenyataan yang banyak terjadi, boleh membuat hati kita menjadi miris! Sebab, nuansa keindahan ramadhan lambat laun seperti tidak meninggalkan bekas. Ketika kesibukan mulai melingkari diri sedemikian hebatnya, ketika hiruk pikuk dunia kembali mencabar keangkuhan sedemikian garangnya, maka seolah-olah tak ada lagi kelonggaran ataupun ruang untuk beribadah dan beramal sholih. Ramadhan pergi, maka ruh kita pun kembali berpuasa lagi... Innalillahi...

Bulan Syawal ini adalah kelanjutan dari Bulan Ramadhan. Sehingga makna dari bulan Syawal itu seharusnya adalah peningkatan dari bulan sebelumnya (Ramadhan). Dimana orientasi dari ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadhan tidak lain adalah pencapaian derajat “Taqwa”. Coba kita renungkan, jika setiap kita berhasil lulus menggapai gelar taqwa, maka niscaya gairah ibadah kita akan terus meningkat. Masjid serta mushola akan selalu ramai dan lebih hidup, rumah dan lingkungan sekitar kita penuh cahaya keberkahan, bahkan “problem sosial” pun akan teratasi lantaran setiap orang semakin menyadari pentingnya berinfaq dan bersedekah.


Tradisi Mudik di Bulan Syawal

Khusus di Indonesia dan juga umumnya di negeri-negeri tetangga dan sekitarnya, ada tradisi atau kebiasaan unik ketika tiba bulan Syawal selepas Ramadhan, yaitu tradisi “mudik” atau “pulang kampung”. Ini adalah tradisi setahun sekali memanfaatkan libur hari raya untuk menyambung tali silaturahim, kembali berkumpul bersama keluarga tercinta di kampung halaman. Jarak tempuh yang jauh tak jadi halangan, dana tabungan terkuras tak jadi penyesalan. Itu semua dilakukan demi untuk bisa jatuh bersimpuh di kaki ayah bunda ataupun pusaranya. Atau demi melepas rindu pada anak istri yang telah ditinggal bekerja setahun lamanya. Nuansa Syawal menjadi begitu indah mengharukan, sekaligus penuh air mata kebahagiaan dan keceriaan.
Tradisi mudik yang setahun sekali ini menjadi salah satu motivasi kebanyakan orang yang tengah berjuang mendulang nasib di tanah perantauan. Mereka rela berlelah-lelah, bersusah payah mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, yang salah satu tujuannya adalah untuk bekal pulang kampung saat hari raya tiba.

Barangkali lantaran hal inilah yang menyebabkan sebagian orang hanya berhasil menjadi hamba Ramadhani. Karena selepas Ramadhan mereka kembali disibukkan oleh rutinitas kerja setahun lamanya.
  
Padahal seharusnya, momentum bulan Ramadhan menjadi wasilah (sarana) bagi setiap kita untuk memperbaiki kualitas ibadah, sekaligus membentuk jiwa raga menjadi manusia-manusia Rabbani, dan bukan sekedar menjadi manusia Ramadhani setahun sekali!

Bulan Ramadhan seharusnya dijadikan sebagai sarana pelatihan dan pembiasaan beribadah yang maksimal. Pintu-pintu taubat yang dibuka selebar-lebarnya oleh Allah SWT. menjadi kesempatan terbaik untuk mensucikan diri dari noda dosa yang pernah dilakukan. Sehingga meskipun Ramadhan telah berlalu, jiwa raga kita tetap dalam kondisi bersih, dan amal ibadah kita juga tetap terjaga, baik kuantitas maupun kualitasnya. Maka jadilah kita tergolong hamba-Nya yang bertaqwa. Yang tetap istiqomah dalam kancah kebaikan dan kepatuhan, sebagai bekal mudik kita yang sebenarnya, yakni mudik ke kampung akhirat, kampung tempat kita kembali yang sebenar-benarnya. Allah Ja’ala jalalu berfirman:


“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.

(QS. Ali Imran, 3 : 133)


(Erbil Laksono, pen)
=============================================================

Ponpes Al Ikhwan menerima Zakat, Infaq, Shadaqoh dari Bapak/Ibu sekalian yang muhsinin.
Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk biaya hidup serta pendidikan anak-anak yatim piatu dan dhuafa, serta operasional pondokan sehari-hari. 
Kami menghaturkan "jazakumullah khairan katsir" kepada para donatur yang telah menyalurkan zakat, infaq dan shadaqohnya melalui Pondok Pesantren Al Ikhwan Setu Bekasi. Semoga apa yang telah dikeluarkan akan menjadi penyempurna sekaligus pelengkap amal sholih yang akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. In sya Allah.

Lebih lanjut Klik Disini!