Dahsyatnya Kekuatan Sedekah

Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?" Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?" Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air). "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikta.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat). Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.
Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.
Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.
Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir. Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.
Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.
Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.
Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.
Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).
Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."
"Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.
Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya. Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.
Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na'im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah! Sungguh, betapa dahsyatnya kekuatan sedekah itu.
sumber:Yatim-piatu.com
________________________________________________________________________________
Ponpes Yatim Piatu & Dhuafa, Pesantren Gratis Al Ikhwan, menerima zakat, infak dan sodaqoh dari Bapak/Ibu/ para muhsinin sekalian. Mari, Salurkan ZISWAF anda bersama kami. Berapapun dan apapun bentuk sumbangsih anda akan sangat berarti bagi para santri di pondokan kami. Semoga budi baik Bapak/Ibu sekalian akan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan berlipat ganda. Aamiin ya robbal 'alamiin.

Khutbah Idul Adha 1436H

Keteladanan Nabi Ibrahim AS.

 اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنـَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْـفِرُهُ, وَنَعُـوْذُبِاللَّهِ مِنْ شُرُورِاَنْفُسِـنَا وَسَـيِّـئَاتِ اَعْمَلِـنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِـلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْـلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, اَشْـهَدُ اَنْ لاَاِلَـهَ اِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَـرِيْكَ لَهُ, وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَعُوْذُبِاللَّهِ مِنَ اشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, يَااَ يُّـهَاالَّذِيْنَ آمَنُوااتَّـقُوْاللَّهَ حَقَّ تُقَا تِه ِوَلاَتَمُوْ تُـنَّ اِلاَّ وَاَنْـتُمْ مُسْلِمُوْنَ, يَااَ يُّـهَاالنَّاسُ اتَّـقُوارَبَّكُم الَّذِخَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَازَوْجَهَاوَبَثَّ مِنْهُمَارِجَالاًكَثِيْراًوَنِِسَاءًوَاتَّـقُواللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالأَرْحَامَ اِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِـيْـبًا, يَااَ يُّـهَاالَّذِيْنَ آمَنُوااتَّقُوْاللَّهَ وَقُوْلُوْ قَوْلاً شَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالُكُمْ وَيَغْـفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًاعَظِيْـمًا, اَمَّـابَعْـدُ, فَإِنَّ اَصْـدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرُ الهَديِ هَـدْيُ مُحَمَّدٍصَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَسَلَّمَ, وَشَـرَّالأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا,وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَـةٌ, وَكُلَّ بِدْعَـةٍضَلاَ لَةٌ, وَكُلَّ ضَلاَ لَةٍ فِي النَـارِ اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ 

Hadirin Yang Berbahagia, 
Kehadiran kita di pagi ini, semarak dengan gegap gempitanya takbir, tahmid dan tahlil membahana memenuhi persada. Kita penuhi panggilan Ilahi, kita tegakkan sunnah, kita rayakan hati yang mulia 'Iedul Adha, Hari Raya Qurban, hari dimana pengorbanan memperoleh tempat sedemikian mulia. Kita berkumpul hari ini mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim 'alayhis salam, dan juga mendukung pengorbanan saudara saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci. 
Sadar akan betapa besarnya nilai sebuah pengorbanan, akan mampu menyalakan semangat yang mulai redup. Berkorban adalah ungkapan cinta yang paling tulus, ungkapan cinta yang paling agung. Sebab setinggi tinggi cinta adalah rela berkorban untuk untuk yang dicintainya. Marilah kita kenang kemuliaan sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebuah kenyataan agung dan mulia. Semoga dengan mengenangnya kita tergerak untuk mengikuti keteladanannya. Sebab memang beliau adalah uswah bagi kita semua. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad Saw harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah Swt berfirman:
 قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْ اِبْرَهِيْمَوَالَّذِيْنَ مَعَهُ ... 
"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia" 

Pengorbanan, yang merupakan tema besar kehidupan, telah diperagakan begitu mempesona oleh kedua nabi mulia ini. Dan memanglah demikian, dalam hidup setiap detik adalah pengorbanan, setiap kita berkorban, tidak ada seorang pun yang tidak mengorbankan sesuatu, untuk hal yang dikerjakan dan ingin diwujudkannya. Tinggal masalahnya, apa yang kita korbankan, dan untuk mencapai apa? Pengorbanan yang mulia, adalah mana kala kita sanggup mengorbankan hal yang lebih rendah nilainya, untuk merealisasikan tujuan yang lebih tinggi. 

Seorang pelajar yang sukses, telah berani mengorbankan sebagian besar waktu bermainnya untuk menguasai apa yang dipelajarinya. Jangan disangka seorang pelajar yang gagal tidak berkorban, mereka pun telah berkorban, hanya sayang, yang ia korbankan adalah waktu belajarnya, untuk kesenangan bermain yang hanya sementara. Nabi Ibrahim dihadapkan pada dua pilihan, antara menegakkan perintah Allah dan cinta. Bila ia memilih tegaknya perintah Allah, maka nyawa anaknya yang terancam. Tetapi bila ia berpihak pada cinta anak, maka perintah Allah yang terlantar.
 Demikian juga Nabi Ismail, ia pun dihadapkan pada dua pilihan, (1) Terlaksananya perintah Allah atau (2) Cinta dirinya. Dirinya mati demi tegaknya hukum Allah, atau ia boykot hukum Allah asal dirinya tetap hidup ? Setiap detik dalam hidup adalah memilih dan berkorban, hidup adalah seni memilih, mana yang harus ddipetahankan dan mana yang harus dikorbankan. Kita tidak bisa mempertahankan sesuatu, tanpa mengorbankan sesuatu yang lain. 
Dan keluarga Nabi Ibrahim telah memberi teladan sepanjang abad, bagaimana kita memilih yang utama untuk dipertahankan. Sampai ke tingkat pilihan yang paling ekstrim sekalipun, demi tegaknya perintah Allah, Nabi Ibrahim rela menumpahkan darah, walaupun harus darah anaknya. Untuk menegakkan perintah Allah Nabi Ismail berani melihat darah mengalir, walaupun itu aliran darah anaknya sendiri!

 اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ 

Sidang Idul Adha yang berbahagia, bila ke dua Nabi yang mulia, mampu memilih yang terbaik untuk dipertahankan, yakni perintah Allah melebihi apapun di dunia ini. Maka bagaimana dengan kita? Apa yang terjadi dalam lingkungan muslimin, justru malah perintah Allah yang berceceran, terhambur tak dimuliakan, justru karena kebanyakan muslimin malah mengorbankan perintah Allah demi kepentingannya sendiri-sendiri. Pantas bila Rasulullah saw, mengeluhkan keadaan ini kepada Allah, sebagaimana disebutkan Quran :
 وَقَالَ الرَّشُوْلُ : يَارَبِّ اِنَّ قَوْمِىاتَّخَذُواهَذَاالْقُرْاَنَ مَهْجُوْرًا 
"Dan berkata Rosul : Ya Robby sesunggunya kaumku telah menjadikan Al Quran ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan" Mari kita perhatikan keadaan muslimin sekarang ini, setelah Rasulullah mencurahkan seluruh tenaganya untuk membangun peradaban Islam, hingga tegak berkibar di Madinah. Setelah Keringat dan darah bercucurah dari tubuh beliau yang mulia, hingga Islam menjadi mercusuar sejarah, setelah raga Sayid Hamzah terkoyak di Padang Uhud. 
Setelah badan Ummu Yasir terbelah, setelah semua pengorbanan ini terjadi. Hari ini banyak dari kaum muslimin yang membiarkan peradaban Islam terburai satu persatu, mulai dari hukum Islam yang adil, hingga ritual sholat, semuanya tidak diperdulikan, semuanya dibiarkan terkubur peradaban bangsa lain. Beginikah muslimin memilih apa yang dikorbankannya? Mereka mengorbankan perintah Allah, mereka mengorbankan karya Nabi dan para shahabat demi kepentingan sehari harinya? 

Mengapa kita tidak mau mengorbankan sedikit dari waktu kita di depan TV untuk membaca buku-buku Islam. Mengapa kita tidak mau mengorbankan sedikit dari waktu waktu hiburan kita untuk duduk berdo'a, berdzikir dan menghaluskan perasaan Keimanan kita? Mengapa kita tidak mau mengorbankan sedikit dari penghasilan kita untuk mengembangkan agama ini. Mengapa kita tidak mau mengorbankan sedikit dari fikiran kita untuk kejayaan Islam ini. Mengapa malah kemajuan dan kejayaan Islam yang kita korbankan untuk kesenangan yang remeh, yang selintas dan tak bermakna itu? 

Hadirin Sidang Idul Adha yang berbahagia, Mari kita berkaca pada teladan mulia Nabi Ibrahim. Ketika perintah itu datang, dalam hati Nabi Ibrahim berkecamuk perang antara cinta dan tugas, tegakah seorang bapak yang sudah lama meninggalkan anak yang dicintainya, sekarang harus menyembelih anak itu dengan tangannya sendiri? Perasaan siapapun akan sepakat mengatakan "Tidak". Tapi ini perintah Ilahi, yang bukan harus direspon dengan rasa, tapi oleh iman. 
Bukan urusan tega dan tidak tega, bukan urusan sayang dan tidak sayang, bukan perkara kejam dan tidak kejam, tetapi ini perkara perintah Allah, tugas dari pemilik langit dan bumi, yang seluruh jiwa manusia dalam genggaman tanganNya. Diukur dengan perasaan, siapa yang tidak sayang kepada anak? Tapi ditakar dengan iman, ini perintah Allah yang memberi nyawa pada anak dan pada dirinya. Berkali kali perintah itu datang lewat mimpi Nabi Ibrahim, beliau masih bimbang. 
Kalaupun hati sudah yakin ini urusan yang mesti direspon dengan iman, tapi bagaimana dengan sang anak, bisakah dia menghadapi kenyataan ini. Dirinya harus terkapar bersimbah darah oleh tangan ayahnya sendiri, yang dicintainya, yang dirindukannya, yang selama ini meninggalkan dirinya? 

Akhirnya dikuatkan hati Nabi Ibrahim, dipanggilnya anak penyejuk hati belahan jiwa itu : "Anakku ... Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku diperintah Allah untuk menyembelihmu, bagaimanakah pandanganmu ?" Di luar dugaan, anak remaja belasan tahun itu, bukannya takut, bukannya berteriak menangis melolong-lolong ketika mendengar dirinya akan disembelih. Remaja Isma'il dengan tegar berkata :
 يا أبتي افعل ما تؤمر ستجدنى ان شاءالله من الصبرين 
Wahai bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang bershabar (QS.37:102) 

Hadirin Sidang 'Iedul Adha yang berbahagia, 
Pagi ini kita membayangkan sebuah pertunjukan iman yang demikian kukuh, sebuah sikap iman yang demikian tegar. Keluarga Nabi Ibrahim, tidak bermain main dengan perasaannya, keluarga Nabi Ibrahim tidak mengukur perintah Allah dengan sayang dan kasihan, tapi melihat perintah sebagai "PERINTAH", yang bagaimanapun berat terasa dalam jiwa, Tugas mestilah tetap ditunaikan. 
SubhanAllah, demikianlah disiplin iman yang sejati. Betapa tulus dan teguhnya kedua nabi ini berhadapan dengan perintah Allah, mereka faham mana yang harus dikorbankan untuk kepentingan yang lebih besar. Episode nabi Ibrahim a.s dan Ismail bukti kesabaran/ketegaran/komitmen atas perintah Sang Maharaja langit dan bumi. Maka patutlah Allah memberikan pujian kepada Ibrahim dengan pujian yang baik dan contoh untuk orang-orang yang datang kemudian.
 شَلاَمٌ عَلَى اِبْرَهِيْم 
" Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim."
 اِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا المُؤمِنُونَ 
" Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman."
 اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ 

Hadirin Yang Berbahagia, 
Qurban dalam konsep Islam sesungguhnya refleksi dari ketaqwaan seseorang qurban dalam makna pengorbaan baik berupa harta dan jiwa serta apapun yang ada pada diri kita harus disadari oleh ketaqwaan yang benar.
 لَنْ يَنَالُ اللَّهَ لُحُوْمُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَقْوَى مِنْكُمْ 
"Daging-daging dan darah Qurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah dari kamulah yang dapat mencapainya.
 اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ 
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertqwa." 

Taqwa adalah penentu diterima atau tidaknya amal seseorang, Seorang muttaqin adalah seorang yang: 1. Takut hanya kepada Allah diluar itu tidak ada yang ditakuti. 2. Berhati-hati, menjaga diri dalam tiap-tiap tingkah laku jika ingin melaksanakan amal perbuatan, baik yang wajib ataupun sunnah. Jadi seorang muttaqin disamping tahu dan paham akan batas-batas hukum dan syariat Islam, juga punya nilai kesanggupan untuk berpihak kepada kebenaran dan sanggup berqurban dengan apa saja yang dimilikinya dengan rela dan suci hati, hanya semata-mata patuh, tunduk kepada Allah Swt demi tegaknya kalimat Allah dibumi ini.

 اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ 
Hadirin Yang Berbahagia, 
Demikianlah makna taqwa yang sebenarnya. Darah yang tertumpah lewat penyembelihan hewan qurban (pengorbanan seseorang) sekali-kali tidak tidak sampai kepada Allah sebagai amal sholeh tanpa didasari oleh nilai ketaqwaan yang benar. Sejarah membuktikan ketika nabi Ibrahim a.s dan Ismail menerima perintah Allah Sang Maharaja langit dan bumi. Dia pasrahkan jiwa dan raga, ketha'atannya dengan harapan Allah membenarkan imannya. 

Sebagaimana firmanNya : "Sesungguhnya kamu (wahai Ibrahim) telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." 
Sikap membenarkan perintah, melaksanakannya dengan penuh kesetiaan adalah buah dan bukti dari taqwa. Sehingga ketika seseorang memotong puluhan hewan Qurban, tapi tidak membenarkan hukum-hukum Allah, tidak bersetia kepada Islam sebagai satu-satunya solusi bagi kedamaian bumi. Maka pemotongan hewan tadi tidak ubahnya sebagai atraksi penjagalan hewan, bukan ujud dari ketaqwaan. 

Karena itu, dari mimbar ini saya ingatkan, hendaknya kaum muslimin dan muslimat yang tahun ini beribadah Qurban, jadikanlah amal ini sebagai amal pelengkap, dari seluruh bakti kita kepada Allah, dari seluruh pengagungan kita terhadap segala perintah Allah. Dan setelah ibadah Qurban ini dilaksanakan, pertahankanlah kualitas ibadah dan disiplin kita untuk tetap menjalankan perintah-perintah Islam seluruhnya. Sehingga dengan demikian, kualitas kita tetap utuh sebagai sebaik-baik makhluq. Sebaliknya, sekalipun hari ini belasan hewan ternak, kita sembelih, tapi jika kita tidak peduli dengan kebenaran Ilahi yang harus ditegakkan, tidak berusaha belajar, memahami dan mengerti ayat-ayat Allah yang harus kita jadikan pola hidup di muka bumi, maka posisi dan kualitas hewan yang disembelih itu digantikan oleh kita sendiri yang menyembelihnya, malah kita sekarang yang dianggap Allah senilai dengan binatang ternak, na'udzubillahi mindzalik. 

Perhatikan firman Allah ini: "Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." 

Mari kita tekadkan, bahwa semenjak saat ini, kita berhenti mengikuti hawa nafsu kita, ataupun hawa nafsu orang lain, tapi kita tundukkan diri ini pada kebenaran Islam yang dibawa Rosulullah saw.
 انما كان قول المؤمنين اذا دعواالىالله ورسوله ليحكم بينهم ان يقولوا سمعنا واطعنا واولئك هم المفلحون 
"Sesungguhnya perkataan orang yang beriman, apabila mereka diseru kepada Allah dan RosulNya, agar aturan Allah diperlakukan atas mereka. Satu kata yang terucap oleh mereka : Sami'na wa atho'na -Kami dengar ya Allah, dan kami ta'at !! Mereka itulah orang orang yang beruntung (QS.24:51)

 وما كان لمؤمن ولا مؤمنة اذا قضى الله ورسوله امرا ان يكون لهم الخيرة من امرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضللا مبينا "
Tidaklah pantas bagi seorang laki laki yang beriman, tidak pula patut bagi perempuan yang beriman, manakala Allah telah dan rosulNya telah memutuskan suatu aturan buat mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain/alternatif lain untuk mengatur urusan mereka tersebut. Sebab barang siapa yang mengambil alternatif lain setelah Allah dan RosulNya menetapkan suatu aturan, maka sungguh dia telah tersesat dengan sejauh jauhnya kesesatan yang nyata (QS.33:36) 

Ini pelajaran buat kita, ini tauladan yang baik, uswah hasanah yang wajib kita tiru, berusaha dan belajar untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang Ibrahimiyyah : Mari kita songsong yang lebih Akbar, kita tujukan perhatian kita ke sana, mari kita bebaskan diri kita dari sesuatu yang gampang sirna. Jangan sampai itu menghalangi tekad ibadah kita, jangan sampai itu menghambat terlaksananya perintah Allah dalam diri kita ! Anak, isteri, keluarga, harta ataupun tempat tinggal, harus kita usahakan agar semua itu tidak menghalangi ta'at kita kepada Allah, bahkan semua itu mesti diarahkan pada satu sikap yang sama, mengabdi, mengabdi kepada Ilahi ! 

Seperti Nabi Ibrahim, keberadaan isteri, anak bahkan apa saja semuanya jadi ibadah. Kita mesti pintar pintar memanfa'atkan waktu dan kesempatan, peluang dan semua yang kita miliki untuk mengabdi. Sebelum terlambat, sebelum ajal menjelang, sebelum kematian merenggut seluruh kesempatan tersebut !!! Jangan sampai kita terlambat seperti orang yang dikisahkan Al Quran, baru sadar setelah di akhirat, baru menyesal sesudah diri dikurung api, baru bertekad beramal sholeh setelah ada dalam neraka :

 وهم يصطرخون فيها ربنا اخرجنا نعمل صالحا غيرالذي كنا نعمل 

Mereka berteriak teriak dalam neraka : Ya Allah, keluarkan kami, kami berjanji, andai Engkau keluarkan kami, kami akan beramal sholeh, berlainan dengan amal yang telah kami lakukan dahulu. Apakah Allah menerima permohonan ini, tidak pula mema'afkan mereka atas kesadaran yang terlambat ini ? Tidak ! Allah Maha Adil, keputusan telah dijatuhkan, orang yang lalai dengan peringatan harus menerima hukuman ! 
Allah jawab mereka dengan satu kata putus :
 اولم نعمركم ما يتذكر فيه من تذكر وجاأكم النذير 
Mengapa baru meminta sekarang, bukankah dulu Kami telah memberi umur kepadamu ? Yang cukup dengan umur itu untuk sadar kalau kalian mau sadar. Bahkan bukan sekedar diberi waktu, telah datang pula kepada kalian pemberi peringatan. Namun semua itu kalian abaikan, waktu kau sia siakan, pemberi peringatan kau tidak pedulikan, engkau telah dzalim, menganiaya dirimu sendiri
 فذوقوا فما الظالمين من نصير 
Sekarang rasakan sajalah 'adzab, dan tidak ada bagi orang orang yang dzalim itu seorang penolong pun. (QS.35:37 

Hadirin Sidang Ied yang berbahagia, 
hidup ditakar waktu, nafas kita dijatah, kesempatan kita terbatas. Berhentilah berangan angan, lepaskan beban berat masa lalu, siapapun kita sebelum ini, bagaimanapun kelakuan kita sebelum ini, baiklah itu merupakan masa lalu kita, namun dari sa'at ini ke depan, kita bertekad untuk terus membenahi diri. Mulai mencoba menapaki jejak Nabi Ibrahim. Mencari kebenaran semata mata demi kebenaran itu sendiri, tidak mudah goyah dan terlena oleh sesuatu yang bakal sirna, serta rindu pada keridhoan Al Akbar Allah Al aziizul Qohhar, Dia Yang Maha Besar, Yang Maha Perkasa. lagi Tak Terkalahkan.

 ياايهاالذين امنوا لا تلهكم اموالكم ولا اولدكم عن ذكرالله ومن يفعل ذالك فألئك هم اخسرون 
Wahai orang orang yang beriman, janganlah harta hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang orang yang merugi (QS.63:9) 
Dari uraian khutbah kita yang singkat pada pagi ini, dapat kita simpulkan bahwa sebagai seorang muslim kita sangat dituntut untuk menunjukkan komitmen atau keterikatan kita kepada Allah Swt dengan nilai-nilai Islam yang telah diturunkan-Nya sebagai apapun kita dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, karenanya Rasulullah Saw berpesan kepada kita agar selalu bertaqwa kepada Allah Swt dimanapun kita berada. Akhirnya marilah kita tutup ibadah shalat Id kita pada pagi ini dengan sama-sama berdo'a

: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَا لِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صَغِيْرًا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
 Ya Allah Ya Robbana, ampunilah kami, ampunilah dosa-dosa orang tua kami, sayangi mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami sejak kami masih kecil. Ya Allah, ampuni juga dosa kaum muslimin dan muslimat baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
 اَللَّهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
Ya Allah Robbana, telah banyak dosa dan kezaliman yang kami lakukan, ampunilah kami ya Allah, betapa hinanya kami manakala Engkau tidak mengampuni kami
. اَللَّهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَةِ وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَةِ
Ya Allah, tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan kekuatan kepada kami untuk bisa melaksanakannya. Ya Allah, tunjukkan kepada kami yang bathil itu bathil, yang salah itu salah dan berikan kekuatan kepada kami untuk bisa menjauhinya.
 اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلاً صَالِحًا مَقْبُوْلاً وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرً
Ya Allah Ya Robbana, jadikanlah jamaah haji kami yang kini telah menunaikannya di Tanah Suci, haji yang mabrur, sa'i yang diterima, dosa yang diampuni, amal shaleh yang diterima dan usaha yang tidak mengalami kerugian
 اَللَّهُمَّ اَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِىاْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَاَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلأَخِرَةِ
Ya Allah, baikkanlah kesudahan segala urusan kami, jauhkanlah dari kehampaan dan kehinaan di dunia dan siksa di akhirat.
 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِىاْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Allah, anugerahkanlah kami kehidupan di dunia yang baik dan akhirat yang baik serta hindarkan kami dari azab neraka.
 ربنا افرغ علينا صبرا وثبت اقدامنا وانصرنا على القوم الكا فرين 
يا حي يا قيوم يا جبار يا قهار خذ حقنا ممن ظلمنا و عدى علينا
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين 
والحمد لله رب العا لمين


Khutbah Idul Fitri 1436 H





إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
                        
                         .


Hadirin  Jama'ah sholat Idul Fitri Rahimakumullah

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ

Sejak tadi malam telah berkumandang alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah shoum Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagai bentuk memenuhi seruan Allah Robb semesta alam :
وَلِتُكْمِلُوااْلعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُاللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Baginda Rasulullah SAW bersabda:
زَيِّنُوْا اَعْيَادَكُمْ بِالتَّكْبِيْر        Hiasilah hari rayamu dengan takbir”

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ  وَ للهِ اْلحَمْدُ


Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT, sedangkan selain Allah semuanya kecil semata. Kalimat tasbih dan tahmid, kita tujukan untuk mensucikan Allah Maha Raja, Robb Semesta Alam , dari segala bentuk perlakuan syirik ….. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ.
Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia lah Dzat yang maha Esa dan maha kuasa. Seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintah-Nya.

اللهُ اَكْبَرْ  اللهُ اَكْبَرْ  وَ للهِ اْلحَمْدُ


Hadirin wal hadirot Jamaah Idul Fitri rahimakumullah 

Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah shoum dan atas karunia-Nya pada hari ini kita dapat berhari raya bersama, maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira, merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan maghfiroh-Nya sebagaimana yang tersurat dalam sebuah hadis Qudsi:

اِذَا صَامُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا اِلىَ عِيْدِكُمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالىَ: يَا مَلاَئِكَتِى كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ اُجْرَهُ اَنِّى قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَيُنَادِى مُنَادٌ: يَا اُمَّةَ مُحَمَّدٍ اِرْجِعُوْااِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بَدَلْتُ سَيِّئَاتِكُمْ حَسَنَاتٍ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِى صُمْتُمْ لِى وَاَفْطَرْتُمْ لِى فَقُوْمُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
Artinya: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya kamu sekalian maka Allah pun berkata: 'Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajikan dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka'. Seseorang kemudian berseru: 'Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan'. Kemudian Allah pun berfirman: 'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangkitlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.” 

اللهُ اَكْبَرْ (2x) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Hadirin wal hadirot Jama`ah Idul Fithri yang berbahagia

Banyak pelajaran hukum dan hikmah, faidah dan fadhilah yang dapat kita petik di bulan suci ramadhan, untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang. Jika diibaratkan, Ramadhan adalah sebuah madrasah. 13 jam x 1bulan, mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari kita dilatih, yang semula sesuatu itu halal menjadi haram. Makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram. Dan itu semua kita taati karena perintah dari Allah dan Rosulnya.

Apakah selepas ramadhan ketakwaan kita akan semakin dekat dengan ajaran Islam ataukah justru semakin jauh ?? hanya diri kita sendiri nanti yang akan membuktikan.
Oleh karena itu, ada empat pesan dan kesan Ramadhan yang sudah semestinya kita pegang teguh bersama susudah Ramadhan yang mulia ini. 

1.       Kesadaran Hukum

Ketika Allah SWT menyeru dengan firmannya :

$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs?  
Kita langsung merespon dengan penuh keimanan dan keikhlasan , karena kita sadar dan faham itu adalah perintah dari Allah yang harus kita laksanakan….kesadaran inilah yang harus kita pertahankan, setiap kali Allah menyeru, maka kita harus merespon dengan keimanan dan keikhlasan.
Ada 88 ayat yang di awali dengan seruan…Yaa ayyuhaladzina aamanuu…..sudah seberapa banyak dari 88 ayat yang sudah kita respon ?, untuk membuktikan bahwa kita termasuk orang yang bertakwa (taat patuh kepada seruan Allah)….Apabila kita hanya merespon sebagian ayat saja yang dianggap sesuai dengan selera kita, maka keimanan kita dipertanyakan….Hadirin yang berbahagia,…jangan seperti ahli kitab, mereka menjalankan Islam itu hanya sebagian-sebagian yang dianggap cocok dengan keadaan..…sebagaimana difirmankan Allah dalam AQ S. 2:85
§tbqãYÏB÷sçGsùr& ÇÙ÷èt7Î/ É=»tGÅ3ø9$# šcrãàÿõ3s?ur <Ù÷èt7Î/ 4 $yJsù âä!#ty_ `tB ã@yèøÿtƒ šÏ9ºsŒ öNà6YÏB žwÎ) Ó÷Åz Îû Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# (
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab (kitab Allah) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah Balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia”.
اللهُ اَكْبَرْ (2x) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Hadirin yang berbahagia,…..Kita perhatikan dari aspek hukum ini  ..…di bulan Ramadhan kita begitu taatnya kepada ketentuan Allah dan Rosulnya untuk mengikuti aturan puasa yang tetah ditetapkan oleh Allah dan Rosulnya…karena kita faham kalau melanggar ketentuan Allah itu akan berakibat batalnya puasa dan juga berakibat dosa. Padahal kalau kita mau ketika kita lapar bisa kita makan ditempat yang tersembunyi yang orang lain tidak mengetahuinya, tapi kenapa itu tidak kita lakukan…. ?   karena kita faham, kita sadar bahwa itu dapat membatalkan puasanya yang berakibat dosa, sehingga tidak kita perbuat hal yang seperti itu. Mampuhkah kita mempertahankan kesadaran hukum ini diluar bulan Ramadhan ??
Berapa banyak perintah Allah yang berhubungan dengan aspek hukum yang telah diperintahkan oleh Allah
 dalam Al Quran yang tidak kita respon, bahkan dilanggar ??   sedangkan kita tahu Allah telah memperingatkan kita :
`tBur óO©9 Nà6øts !$yJÎ/ tAtRr& ª!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßJÎ=»©à9$# ÇÍÎÈ  
“Dan barang siapa yang tidak berhukum kepada apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang orang dzolim” (5 : 45)

Pernah terjadi suatu kasus di Medinah;  “seorang yang beriman terjadi sengketa dengan orang yahudi, dan mengadukan perkaranya kepada Rosulullah SAW. Dan perkaranya dimenangkan oleh orang Yahudi, orang yang beriman itu tidak puas dengan keputusan Rosulullah, kemudian dia mendatangi ahli hukum yang dulu menjadi hakim di zaman jahiliyah”…..???....Masya Allah….seorang yang beriman tidak percaya kepada keputusan Rosulullah….terus siapa yang bisa lebih adil dari Allah dan Rosulnya ???...
öNs9r& ts? n<Î) šúïÏ%©!$# tbqßJãã÷tƒ öNßg¯Rr& (#qãYtB#uä !$yJÎ/ tAÌRé& y7øs9Î) !$tBur tAÌRé& `ÏB y7Î=ö6s% tbr߃̍ムbr& (#þqßJx.$yÛtFtƒ n<Î) ÏNqäó»©Ü9$# ôs%ur (#ÿrâÉDé& br& (#rãàÿõ3tƒ ¾ÏmÎ/ ߃̍ãƒur ß`»sÜø¤±9$# br& öNßg¯=ÅÒムKx»n=|Ê #YÏèt/ ÇÏÉÈ  
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.
اللهُ اَكْبَرْ (2x) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Hadirin yang berbahagia ….      Hukum siapakah yang lebih baik ??


أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”  ( 5 : 50)


Hadirin wal hadirot Rohimakumullah :
Mari kita tingkatkan kesadaran Hukum, agar hidup kita penuh dengan rahmat dan maghfiroh Allah, kita taati perintah Allah, agar hidup sesuai dengan syariat yang telah Allah turunkan

¢OèO y7»oYù=yèy_ 4n?tã 7pyèƒÎŽŸ° z`ÏiB ̍øBF{$# $yg÷èÎ7¨?$$sù Ÿwur ôìÎ7®Ks? uä!#uq÷dr& tûïÏ%©!$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÊÑÈ  
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari semua urusan itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”.
(18 : 45)
اللهُ اَكْبَرْ (2x) وَ للهِ اْلحَمْدُ
Hadirin yang berbahagia

2.       Kesadaran membaca dan mentadaburi Al Qur an

Bulan Ramadhan bulan diturunkannya Al Qur an 
ãöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur an sebagai petunjuk bagi manusia “

Dibulan ramadhan kita giat dengan tadarus/membaca Al Qur an ada yang sampai 1x / 2x khatam . .…kesadaran ini yang harus kita pupuk dan kita pertahankan,  membaca Al Qur an dan harus menjadi pembiasaan, sabda Rosulullah bahwa Surga itu bertingkat tingkat, tergantung seberapa banyak hapalan Al Qur annya….Hadirin yang berbahagia….Al Quran tidak cukup hanya dibaca saja, tapi harus di tadaburi, difahami isi dari Al Quran, sehingga AQ akan menjadi Hudan, petunjuk dalam kehidupan kita, apabila AQ hanya dibaca tapi tidak kita fahami, bagaimana AQ akan menjadi petunjuk ?
AQ harus menjadi penuntun dalam hidup kita, insya Allah kita tidak akan sesat dalam hidup ini, baginda Rosulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadist :

عن جا بر عن ا لنبى ص م  قا ل :  ُثمَ القرْأن شَا فِعُ  مُشَفَعُ وَمَا حِلُ مُصَدَقُ مَن جَعَلَهُ اُمَا مَهُ قَادَهَ اِلَى الجَنَةِ وَمَن جَعَلَهُ  خَلفَ ظَهرِهِ  سَاقَطَهُ اِلَى النَا ر

Dari Jabir Nabi saw bersabda : “ Al Qur’an adalah pemberi syafaat yang syafaatnya diterima, Al Qur’an sebagai penuntut yang tuntutannya dibenarkan, Barang siapa yang menjadikan Al Qur’an didepannya (sebagai landasan hidupnya), maka Al Qur’an akan menuntunnya ke syurga, Barang siapa yang menjadikan Al Qur’an dibalik punggungnya, maka Al Qur’an akan mendorongnya ke neraka“
(HR. Ibnu Hiban)

Hadirin yang berbahagia :
Allah akan membimbing orang orang yang bertaqwa dengan Al Qur an dengan penuh keridhoannya menuju jalan keselamatan sebagaimana difirmankan Allah dalam AQ S. Almaa-idah : 16
Ïôgtƒ ÏmÎ/ ª!$# ÇÆtB yìt7©?$# ¼çmtRºuqôÊÍ Ÿ@ç7ß ÉO»n=¡¡9$# Nßgã_̍÷ãƒur z`ÏiB ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ óOÎgƒÏôgtƒur 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡B ÇÊÏÈ  
“Dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”

Orang yang bertaqwa hidupnya akan dibimbing dengan hidayah Allah melalui AQ, untuk itu Al Qur an harus menjadi bacaan sehari hari, ketika kita mendapatkan masalah, maka Allah berikan solusi melalui wahyu.
Jangan sampai kita jauh dengan Al Qur an, kalau kita jauh dari Al Qur an, bahkan membelakangi, cuek terhadap AQ,  maka Al Qur an akan mendorong ke neraka   وَمَن جَعَلَهُ  خَلفَ ظَهرِهِ  سَاقَطَهُ اِلَى النَا ر ...  hidup menjadi sempit dan nanti di akhirat akan menjadi orang yang buta, Karena jauh dan cuek dengan Al Qur an
ô`tBur uÚtôãr& `tã ̍ò2ÏŒ ¨bÎ*sù ¼ã&s! Zpt±ŠÏètB %Z3Y|Ê ¼çnãà±øtwUur uQöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 4yJôãr& ÇÊËÍÈ   tA$s% Éb>u zOÏ9 ûÓÍ_s?÷Ž|³ym 4yJôãr& ôs%ur àMZä. #ZŽÅÁt/ ÇÊËÎÈ  
124. dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (yaitu AQ) , Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".
125. berkatalah ia: "Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (Thaahaa  20 : 124-125)

Rosulullah SAW pernah mengadu kepada Allah terhadap kaum yang meninggalkan Al Qur an
tA$s%ur ãAqߧ9$# Éb>t»tƒ ¨bÎ) ÍGöqs% (#räsƒªB$# #x»yd tb#uäöà)ø9$# #YqàfôgtB ÇÌÉÈ  
“Berkatalah Rasul: "Ya Robbku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak ditinggalkan".

اللهُ اَكْبَرْ (2x) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Hadirin Yang berbahagia :

3.      Kesadaran Mengendalikan Hawa nafsu

Selama sebulan penuh kita telah di tarbiyah agar dapat melawan hawa nafsu…..menahan amarah, memaafkan kesalah orang lain, bicara jujur, taat patuh hanya kepada Allah saja……
Dalam kehidupan ini banyak keinginan keinginan yang datang dari dalam dirinya sendiri atau yang datang dari luar dirinya, yang kadang tidak berkesesuaian dengan kitab Allah, disinilah kita harus mampu mengendalikan diri kita agar sesuai dengan petunjuk Allah, kita sudah ditarbiyah selama sebulan untuk dapat menahan dan mengendalikan hawa nafsu kita dari segala perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Agama, kita di didik untuk taat dan patuh kepada aturan Allah…………
Kalo kita bandingkan shoumnya Rosulullah SAW dan para sahabat di bulan ramadhan bukan hanya melawan hawa nafsu saja tapi juga melawan orang orang kafir yang akan menghancurkan Islam, perang Badar terjadi di bulan Ramadhan,
Sampai Rosulullah memohon kepada Allah, kemudian beliau menghadap kiblat sambil mengangkat tangan, beliau berdoa :
"Ya Allah, penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini." (HR. Muslim dan Ahmad)
Alhamdulillah perang Badar,  perang yang pertama kali dalam sejarah Islam melawan kaum Musyrikin Mekah dimenangkan oleh pasukan Islam, hingga kita sekarang ini mendapatkan anugrah Islam yang dapat menyelamatkan hidup kita di dunia dan di akhirat, ini semua berkat perjuangan Rosulullah SAW dan para shahabat
اللهُ اَكْبَرْ (2x) وَ للهِ اْلحَمْدُ

Hadirin yang berbahagia
Hari ini kita tidak sedang berperang melawan musuh, perang dalam arti tempur, tapi hari ini kita sedang  melawan segala keinginan keinginan yang tidak berkesesuaian dengan kitab Allah dan SR yang harus kita kalahkan

Hadirin yang berbahagia :
Dalam diri manusia terdapat dua kekuatan yang saling tarik menarik mempengaruhi jiwa kita yaitu Fujuroha wa taqwaha, apabila yang mendominasi adalah kebenaran, maka akan mebawa hidup ini kejalan kebahagiaan dan ketakwaan, tapi apabila yang mendominasi itu adalah kebatilan, maka hidup akan tersesat, dan jauh dari rahmat Allah SWT…..seseorang masuk surga karena Rahmat Allah…
Allah telah mengilhamkan pada seseorang yang mengarah kepada kebaikan dan yang mengarah kepada jalan kefasikan :

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,  dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” ( 91 : 8-10 )

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa memelihara diri dari kesucian jiwa kita, dan dari perbuatan perbuatan dosa yang akan menjerumuskan kedalam azab Allah…..

اللهُ اَكْبَرْ (2x) وَ للهِ اْلحَمْدُ


4.       Kesadaran Sosial

Sebulan penuh kita jalankan ibadah puasa cobaan demi cobaan kita lewati…. pernahkah kita memperhatikan aspek social Ramadhan, semua orang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar.
Allah SWT telah memperingatkan kepada kita untuk memperhatikan anak yatim dan fakir miskin dan Allah mengancam bagi mereka yang mengabaikan tetangga kita, yang kondisi ekonominya terpuruk, jangankan buat melanjutkan sekolahnya buat makan saja susah, maka yang seperti ini mereka mendustakan agama Allah sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat Al Ma’un….(107 : 1-4)

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama Allah ?  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi Makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

Bagi mereka yang tidak peduli dengan kehidupan social kemasyarakatan diancam oleh Allah sebagai orang yang mendustakan Agama Allah, bahkan Neraka wel bagi mereka yang sholat….
Mudah mudahan puasa yang kita jalankan sebulan penuh itu dapat membentuk jiwa jiwa social …..aamiin  YaRobbal ‘alamiin…
اللهُ اَكْبَرْ (2x) وَ للهِ اْلحَمْدُ


Ma’asirol Muslimin wal Muslimat sidang iedul Fitri Rohimakumullah :

Akhirnya mari kita munajat kehadhirat Ilahi Robbi, agar kiranya Allah Aja wajalla mengabulkan permohonan kita bersama,

“Ya ALLah, Ya Malikul Kuddus, maha raja langit dan bumi ......Inilah kami, telah sebulan kami haus dan dahaga, telah kami lawan nafsu nafsu kami, kini kami datang ya ALLah, mengagungkanMu, membesarkanMu, memujiMU, ampuni kami Ya ALLah, Rahmati kami Ya ALLah, bimbing  kami menuju keridhoanmu, kasihani ke dua orang tua kami, sayangi anak anak kami .....

Kami lelah Yaa Allah, berhadapan dengan kemelut bumi yang kian menyesak dada, kepahitan hidup, pertengkaran, pertempuran dan pembataian muslim telah menjadi berita harian…..... punggung punggung kami telah payah memikul beban dunia, kami sadar ya ALLah tak sanggup lagi kami hadapi ini seorang diri, Turunkan Ya ALLah bantuanMu, berikan kepada kami dengan KekuatanMu.”

Iyya ka na’budu wa iyya ka nasta’iin, ihdinash shiroothol mustaqiim. shiroothol ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladh dhoolliin.

Hanya kepadamu Yaa ALLah kami mengabdi, hanya kepadaMu yaa ALLah kami memohon pertolongan.
Tunjuki kami yaa ALLah, pada jalan yang lurus. Telah menjadi pilihan hidup kami, telah jadi tekad kami, kami ingin bersama dengan orang  yang telah engkau anugrahi nikmat. Minannabiyyiina, washiddiqiina, wasyuhadaa-i wash shoolihiin .

Yaa Robbanaa …. Kami ingin bersama para nabi, dengan mereka yang bekerja keras bersungguh sungguh pantang menyerah menegakkan DienMu , kami berfihak pada mereka yang rela menjadi tumbal kebenaranMu , kami ingin menyertai mereka yang sholeh Ya ALLah. Dan  janganlah Engkau masukkan kami Ya ALLah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk mereka yang kau murkai, mereka yang ingkar, yang melawan AturanMu. Jangan pula Engkau jadikan Kami termasuk mereka yang sesat, yang salah dalam menafsirkan kehendakMu, yang terombang ambing, oleh keinginan keinginan hawa nafsu

Ya ALLah Ya Malik yang menguasai kerajaan Langit dan Bumi, Ya ALLah kekuasaanMu tak terkalahkan,  Bila kami kalah lagi oleh bisikan Iblis, bisikan syaithon, maka musuh musuh kami, akan tertawa karenanya. Bila kami jatuh berlumur dosa lagi, maka kekasihmu, Nabi Muhammad SAW, akan kecewa karenanya. Engkau tidak akan membiarkan kekasihmu kecewa, Engkau tak akan beri peluang syetan syetan gembira. Dari itu, ini tangan kami yang lemah Ya ALLah, Ini jiwa kami yang gampang tergoda Ya ALLah, lindungi kami Yaa ALLah, jauhkan kami dari dosa, dan dari makshiyyat, seperti engkau jauhkan masyrik dan maghrib ..........

Yaa ALLah telah berat punggung ini memikul dosa, tak mungkin kami selamat di atas titian  ..... tanpa rahmat dan kasihMu..

آمِين يَا رَبَّ العَا لَمِيْنَ
والحمد لله رب العا لمين

والسلام عليكم ورحمة الله وبركا ته