Kapan 1 Ramadhan 1437H?

Alhamdulillah, pada tahun 2016, umat Islam diprediksi akan mengawali dan mengakhiri Shaum Ramadhan 1437 H secara bersama.

Secara bersama, Insya Allah, Shaum Ramadhan 1437 H akan dimulai pada Hari Senin, 6 Juni 2016 M, sedangkan Hari Raya Idul Fitri 1437 H akan dilaksanakan pada Hari Rabu, 6 Juli 2016 M. Dengan demikian Umat Islam akan melaksanakan Ibadah Shaum Ramadhan 1437 H selama 30 hari.

Hal ini berdasarkan hasil perhitungan sebagai berikut : *)

Awal Shaum Ramadhan 1437 H / 2016 M
Ijtimak akhir bulan Sya’ban    : Ahad, 5 Juni 2016 M, jam 09.57 WIB
Tinggi Hilal malam Senin        : 3,93 derajat
Tanggal 1 Ramadhan 1437 H : Senin, 6 Juni 2016 M.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, tinggi hilal pada malam Senin 3,93 derajat. Tinggi hilal sebesar ini telah memenuhi kriteria Metode Wujudul Hilal yang digunakan oleh Muhammadiyah dan telah memenuhi kriteria Metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li yang digunakan oleh NU dan Ormas Islam yang lainnya.

Untuk menentukan awal bulan, metode Wujudul Hilal mensyaratkan hilal sudah ada diatas ufuk atau tinggi hilal diatas Nol derajat, hal ini terpenuhi karena tinggi hilal sudah 3,93 derajat.

Sedangkan metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li mensyaratkan hilal harus sudah terlihat dengan mata. Berdasarkan pengalaman yang sudah disepakati oleh para ahli rukyat, jika cuaca cerah, hilal baru bisa dilihat jika tingginya minimal 2 derajat. Pada Ahad malam Senin, hilal sangat mungkin terlihat karena tingginya sudah lebih-besar dari 2 derajat yaitu 3,93 derajat.

Dengan demikian, bagi umat Islam yang menggunakan metode Wujudul Hilal maupun metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li, akan sepakat menetapkan Awal Ramadhan 1437 H pada Hari Senin, 06 Juni 2016 M.

Hari Raya Idul Fitri 1437 H / 2016 M
Ijtimak akhir bulan Ramadhan            : Senin, 4 Juli 2016 M, jam 18.00 WIB
Tinggi Hilal malam Selasa                   : - 1,10 derajat
Tinggi Hilal malam Rabu                    : 12,07 derajat
Tanggal 1 Syawal 1437 H                   : Rabu, 6 Juli 2016 M.

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, tinggi hilal pada malam Selasa adalah -1,10 derajat, artinya hilal masih berada dibawah ufuk, belum wujud, dan pastinya tidak bisa dilihat. Baik metode Wujudul Hilal maupun metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li akan sepakat bahwa hari Selasa masih termasuk Bulan Ramadhan.

Sedangkan pada Selasa malam Rabu tinggi hilal sudah 12,07 derajat, artinya hilal sudah berada diatas ufuk, sudah wujud, dan pastinya sudah bisa dilihat dengan mata karena sudah jauh diatas 2 derajat.

Dengan demikian, metode Wujudul Hilal dan metode Rukyatul Hilal Bil Fi’li akan sepakat menetapkan bahwa Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Hari Rabu, 06 Juli 2016 M. Dengan kata lain, Umat Islam akan berShaum selama 30 hari.

Tidak perlu saling Menyalahkan!
Amat memprihatinkan memang, manakala kita membaca tulisan-tulisan da’wah maupun lisan-lisan sebagian pihak yang mempermasalahkan hal ini sampai timbul cacian, hinaan, pertentangan, maupun kata-kata dan tulisan yang menyakitkan kesatuan umat muslim. Bahkan menimbulkan permusuhan dan merasa surga serasa miliknya atau milik kelompoknya. Sungguh hal ini merupakan kepayahan umat akhir zaman.

Mereka yang dengan kuat menyalahkan yang lain lazim justru menunjukkan kekurangfahamannya meskipun ia seorang yang berilmu. Mereka yang meyakini apa yang diyakininya namun tidak menyalahkan yang lain karena masih dalam satu kaidah, bahkan menghormatinya menunjukkan kefahamannya serta tingkat keilmuannya, sebagaimana para ulama besar terdahulu yang sering kali berbeda tapi enggan menonjolkan keangkuhan.
                                                                       
Sebelum itu, ada baiknya mari kita coba simak perbedaan dasar/dalil sebagai “alat pengambilan hukum” masing-masing pendapat yang kami ketahui:


METODE RUKYATUL HILAL:

  1. Rukyat adalah melihat hilal (bulan sabit) ketika matahari terbenam tanggal 29 bulan Qamariyah, Seandainya hilal berhasil dilihat, maka sejak matahari terbenam tersebut sudah terhitung bulan baru, jika tidak terlihat, maka malam itu dan keesokan harinya masih merupakan bulan yang sedang berlanjut dalam arti bulan adalah 30 hari. Keberhasilanrukyatul hilal tergantung pada situasi cuaca, ketelitian mata si perukyat, akurasi teropong/teleskop. Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya matahari terlalu pendek.
  2. Metode panafsiran tekstual/letterlek (mengambil hukum apa adanya sesuai bunyi lafal darinash/dalil): Al Baqarah; 2:185. … “faman syahida minkumussyahra falyashumhu” (Karena itu, barang siapa di antara kamu melihat bulan itu, maka hendaklah ia berShaum pada bulan itu). Dan hadits shahih yang intinya ber Shaumlah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal). Rasulullah saw. bersabda: “Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai Shaum. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti Shaum. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berShaum selama 30 hari.” (H.R. Muslim - shahih)


METODE HISHAB:

  1. Istilah hishab bersumber dari bahasa Arab yang berarti perhitungan. Sedangkan dalam Ilmu Falak, hishab itu ialah perhitungan pergeseran benda-benda langit untuk mengetahui kedudukan pada suatu saat yang diinginkan.
  2. Dengan metode ini mereka juga berpendapat memungkinkan untuk menyatukan umat Islam.
  3. Metode panafsiran kontekstual (mengambil hukum berdasarkan maksud yang terkandung dari nash/dalil yang dihubungkan dengan dalil/nash yang lain).
  4. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini (nabi berisyarat dengan menggunakan tangannya)”, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari.” (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain). Hadits tersebut memberi isyarat bahwarukyatul hilal adalah cara yang mungkin pada masa Nabi, sedangkan ilmu hishab belum dikenal seiring dengan kemajuan zaman.
  5. Bersumber pada banyak ayat yang dihubungkan: QS. Al Baqarah; 2:185. … “faman syahida minkumussyahra falyashumhu” (sebagaimana seperti terjemah pada banyak Al-Quran terjemah yang artinya “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir/membuktikan di bulan itu, maka hendaklah ia berShaum pada bulan itu”)
*Karena ayat tersebut jelas menyatakan syahr, bukan qomar maupun hilal. Karena syahr adalah bermakna bulan bagian dari tahun, bukan bulan benda yang ada di langit (qomar).

Dengan demikian , dasar utama Al-Quran belum menyatakan hilal. Adapun melihat hilal baru muncul di hadits, sementara hadits merupakan salah satu penjelas Al-Quran. Adapun penjelas Al-Quran dengan Al-Quran memiliki kedudukan yang lebih kuat. Misalnya pada ayat-ayat berikut:

QS. Al-An’aam, ayat 96:
“Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk PERHITUNGAN. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

QS. Yunus, ayat 5:
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, SUPAYA KAMU MENGETAHUI BILANGAN TAHUN DAN PERHITUNGAN (WAKTU). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.

QS. Al-Isra’, ayat 12:
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan SUPAYA KAMU MENGETAHUI BILANGAN TAHUN-TAHUN DAN PERHITUNGAN. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”.

QS. Yasin, ayat 38-40:
“Dan matahari berjalan di tempat PEREDARANNYA. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan MANZILAH-MANZILAH, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.

QS. Ar-Rahmaan, ayat 5:
“ Matahari dan bulan (beredar) menurut PERHITUNGAN”.
QS. Ar-Rahmaan, ayat 17:
“Robb yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Robb yang memelihara kedua tempat terbenamnya”.

QS. Ar-Ra’du, ayat 2:
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. MASING-MASING BEREDAR HINGGA WAKTU YANG DITENTUKAN. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu”.

QS. Ibrahim, ayat 33:
“Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang TERUS MENERUS BEREDAR (DALAM ORBITNYA); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang”.

Ayat lainnya: Al-A’raf 54, An-Nahl 12, Al-Anbiya 33, Luqman 29, Fathir 13, Az-Zumar 5, Al-Ma’arij 40.

Banyak ayat di atas mengandung makna bahwa ruh/makna dasar pada Al-Quran adalah posisi bulan dan matahari sebagai dasar penentuan waktu.

Pada kenyataannya, jika kita mempelajari lebih jauh, metode rukyat memiliki beberapa metode yang hasilnya akan berbeda, begitu juga metode hishab memiliki beberapa metode perhitungan yang hasilnya pun akan berbeda. Juga, metode gabungan rukyat dan hishab pun memiliki kriteria yang berbeda. Adapun positifnya adalah, baik metode rukyat maupun hishab, keduanya terus membaik dalam tingkat akurasinya.

Akhirnya, kita ketahui bahwa metode rukyat merupakan pendekatan tekstual/bunyi dalil apa adanya, sedangkan metode hishab merupakan pendekatan kontekstual/makna isi yang terkandung. Kedua pendapat ini kuat. Tidak bisa kita katakan salah satu pendapat lemah. Masing-masing memiliki argumen yang kuat. Masing-masing dipegang oleh para ulama besar. Artinya, kita bisa memilih pendapat mana yang lebih kita yakini, tanpa melemahkan apalagi membuat perpecahan. Karena Shaum adalah ibadah maghdhah sehingga kita harus berusaha mengembalikannya kepada Allah dan Rasulnya melalui pemahaman yang lebih kita yakini kebenarannya.

Allah SWT. Berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. KEMUDIAN JIKA KAMU BERLAINAN PENDAPAT TENTANG SESUATU, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An Nisaa’, ayat 59)

*Pengertian ulil amri adalah orang yang memegang kekuasaan dalam suatu masalah. Ulil amri tidak sebatas para ulama atau pemuka agama saja, melainkan Ulil amri yang harus diikuti itu bisa saja dari pemimpin-pemimpin tingkat masyarakat sampai dengan tingkat Negara.
**Adapun apabila terjadi perbedaan pendapat, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya).

Yang perlu kita pahami adalah, perkara fiqh adalah perkara fleksibel, bukan mutlak. Ijtihad jika benar mendapat dua pahala, jika salah tetap mendapat pahala. Tidak ada dosa.

Telah jelas perbedaan metodologi hishab maupun rukyah --secara aplikatif-- merupakan persoalan furu’iyyat (hukum cabang) yang memang tidak dapat dihindari. Adapun keduanya tetap berpegangan sama bahwa hukum Shaum adalah fardhu dan keduanya pun menjalankannya. Dan keduanya pun masih berpedoman bahwa menentukan waktu berdasarkan bulan, yang satu dengan melihat, yang satu dengan menghitung/menentukan posisi bulan. Keduanya memiliki semangat/ruh yang sama, sama-sama memperhitungkan bulan (syahr) berdasarkan pergerakan bulan (qomar), dan ini dibenarkan, hanya cara mengetahui posisi qomar nya saja yang berbeda (maka jelas pula metode lain di luar hishab dan rukyat yang tidak mempertimbangkan bulan tidak dapat diterima). Oleh karena itu, keduanya masih dalam satu koridor yang dapat diterima. Maka, satu kesimpulan akhir adalah “Jaga kesatuan dan persaudaraan sesama umat Islam, jangan mudah terpecah belah oleh permasalahan cabang, dan apakah kita harus menunggu Imam Mahdi baru umat Islam bisa bersatu?”

Satu hal renungan terakhir yang perlu kita ketahui,

Bagi yang menganut metode hishab janganlah kalian menyalahkan metode rukyat, karena memang bunyi dalilnya seperti itu. Dan Nabi Muhammad saw. jelas-jelas dalam hadits shahihnya untuk melihat hilal.

Adapun bagi yang menganut metode rukyat janganlah kalian menyalahkan metode hishab, karena bagaimana mungkin Anda yang selalu menjalankan shalat lima waktu, membuat kalender, mengakhiri sahur, bahkan mulai berbuka adalah dengan hasil perhitungan metodehishab, bukan dengan melihat matahari untuk sholat/berbuka.

Adapun yakinilah apa yang menurut Saudara yakini, pilih  sesuai keyakinan masing-masing, ikuti ulil amri yang diikuti, tak perlu ada salah-menyalahkan, dan tetaplah memprioritaskan perintah Allah untuk tetap menjaga persatuan Islam.

Allah SWT. Berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (QS. Ali ‘Imran, ayat 103)

Wallahu a'lam bishowwab.


Sumber:
http://ahlinyabusanamuslim.blogspot.co.id;
http://muhammadsyukronfauzi.blogspot.co.id
(dengan perubahan dan penambahan seperlunya)

Sambut Ramadhan Lahir Bathin

Tak terasa kita telah memasuki pertengahan bulan Sya’ban. Sebentar lagi kita akan kedatangan bulan Ramadhan. Setelah setahun lamanya berpisah, kini Ramadhan akan kembali hadir di tengah-tengah kita. Bagi seorang muslim, tentu kedatangan bulan Ramadhan akan disambut dengan rasa gembira dan penuh rasa syukur, karena Ramadhan merupakan bulan maghfirah, bulan rahmat dan ladang menuai pahala serta sarana agar menjadi orang yang muttaqin.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melakukan persiapan diri untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, agar Ramadhan kali ini benar-benar memiliki nilai yang tinggi dan dapat mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa.

Tentu saja persiapan diri yang dimaksud di sini bukanlah dengan memborong berbagai macam makanan dan minuman lezat di pasar untuk persiapan makan sahur dan balas dendam ketika berbuka puasa. Juga bukan dengan mengikuti berbagai program acara televisi yang lebih banyak merusak dan melalaikan manusia dari mengingat Allah Subhanahu Wata’ala dari pada manfaat yang diharapkan, itupun kalau ada manfaatnya. Bukan pula pergi ke pantai menjelang Ramadhan untuk rekreasi, makan-makan dan bermain-main.

Ada banyak hal yang perlu dilakukan dalam rangka persiapan menyambut kedatangan Ramadhan, yaitu:

Pertama, berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana yang dicontohkan para ulama salafusshalih. Mereka berdoa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan sungguh-sungguh agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya dan selama enam bulan berikutnya mereka berdoa agar puasanya diterima Allah Subhanahu Wata’ala, karena berjumpa dengan bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan” (Lathaif Al-Ma’aarif: 174)

Di antara doa mereka itu adalah: ”Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan”. Dan doa yang populer: ”Ya Allah, berkatilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”.

Kedua, menuntaskan puasa tahun lalu. Sudah seharusnya kita mengqadha puasa sesegera mungkin sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun kalau seseorang mempunyai kesibukan atau halangan tertentu untuk mengqadhanya seperti seorang ibu yang sibuk menyusui anaknya, maka hendaklah ia menuntaskan hutang puasa tahun lalu pada bulan Sya’ban.

Sebagaimana Aisyah r.a tidak bisa mengqadha puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa ada uzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah dosa, maka kewajibannya adalah tetap mengqadha, dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama.

Ketiga, persiapan keilmuan (memahami fikih puasa). Mu’adz bin Jabal r.a berkata: ”Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah”. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar diatas, ”Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya”.

Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Maka dalam hal ini, hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui cara berpuasa yang benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Begitu juga ilmu sangat diperlukan dalam melaksanakan ibadah lainnya seperti wudhu, shalat, haji dan sebagainya. Maka, menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk membaca buku fiqhus shiyam (fikih puasa) dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf dan membaca al-Quran.

Kempat, persiapan jiwa dan spiritual. Persiapan yang dimaksud di sini adalah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah agung lainnya di bulan Ramadhan dengan sebaik-sebaiknya, yaitu dengan hati yang ikhlas dan praktek ibadah yang sesuai dengan petunjuk dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam.

Persiapan jiwa dan spiritual merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya untuk memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Penyucian jiwa (Tazkiayatun nafs) dengan berbagai amal ibadah dapat melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakkalan, dan amalan-amalan hati lainnya yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas. Salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah di bulan sebelumnya, minimal di bulan Sya’ban ini seperti memperbanyak puasa Sunnat.

Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban merupakan sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Aisyah ra, ia berkata, “Aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam berpuasa sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, dari Usamah bin Zaid r.a ia berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan lain yang sesering pada bulan Sya’ban”. Beliau bersabda, “Itu adalah bulan yang diabaikan oleh orang-orang, yaitu antara bulan Ra’jab dengan Ramadhan. Padahal pada bulan itu amal-amal diangkat dan dihadapkan kepada Rabb semesta alam, maka aku ingin amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i dan Abu Daud serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Adapun pengkhususan puasa dan shalat sunat seperti shalat tasbih pada malam nisfu sya’ban (pertengahan Sya’ban) dengan menyangka bahwa ia memiliki keutamaan, maka hal itu tidak ada dalil shahih yang mensyariatkannya. Menurut para ulama besar, dalil yang dijadikan sandaran mengenai keutamaan nisfu sya’ban adalah hadits dhaif (lemah) yang tidak bisa dijadikan hujjah dalam persoalan ibadah, bahkan maudhu’ (palsu). Oleh Sebab itu, Imam Ibnu Al-Jauzi memasukkan hadits-hadits mengenai keutamaan nishfu Sya’ban ke dalam kitabnya Al-Maudhu’at (hadits-hadits palsu).

Al-Mubarakfuri berkata, “Saya tidak mendapatkan hadits marfu’ yang shahih tentang puasa pada pertengahan bulan Sya’ban. Adapun hadits keutamaan nisfu Sya’ban yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah saya telah mengetahui bahwa hadits ini adalah hadits sangat lemah” (Tuhfah Al-Ahwazi: 3/444).

Syaikh Shalih bin Fauzan berkata, “Adapun hadits-hadits yang terdapat dalam masalah ini, semuanya adalah hadits palsu sebagaimana dikemukakan oleh para ulama. Akan tetapi bagi orang yang memiliki kebiasaan berpuasa pada ayyamul bidh (tanggal 14, 15, 16), maka ia boleh melakukan puasa pada bulan Sya’ban seperti bulan-bulan lainnya tanpa mengkhususkan hari itu saja.”

Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Mengkhususkan puasa pada hari nisfu Sya’ban dengan menyangka bahwa hari-hari tersbut memiliki keutamaan dari pada hari lainnya, tidak memiliki dalil yang shahih” (Fiqh As-Sunnah: 1/416).

Kelima, persiapan dana (finansial). Sebaiknya aktivitas ibadah di bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap muslim dianjurkan memperbanyak amal shalih seperti infaq, shadaqah dan ifthar (memberi bukaan). Karena itu, sebaiknya dibuat sebuah agenda maliah (keuangan) yang mengalokasikan dana untuk shadaqah, infaq serta memberi ifhtar selama bulan ini. Moment Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliah kita. Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi Shalallahu ‘alaihi Wassallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan.” (H.R Bukhari dan Muslim). Termasuk dalam persiapan maliah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga.

Keenam, persiapan fisik yaitu menjaga kesehatan. Persiapan fisik agar tetap sehat dan kuat di bulan Ramadhan sangat penting. Kesehatan merupakan modal utama dalam beribadah. Orang yang sehat dapat melakukan ibadah dengan baik. Namun sebaliknya bila seseorang sakit, maka ibadahnya terganggu. Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Pergunakanlah kesempatan yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim)

Maka, untuk meyambut Ramadhan kita harus menjaga kesehatan dan stamina dengan cara menjaga pola makan yang sehat dan bergizi, dan istirahat cukup.

Ketujuh, menyelenggarakan tarhib Ramadhan. Disamping persiapan secara individual, kita juga hendaknya melakukan persiapan secara kolektif, seperti melakukan tarhib Ramadhan yaitu mengumpulkan kaum muslimin di masjid atau di tempat lain untuk diberi pengarahan mengenai puasa Ramadhan, adab-adab, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya atau amal ibadah lainnya.

Menjelang bulan Ramadhan tiba, Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam memberikan pengarahan mengenai puasa kepada para shahabat. Beliau juga memberi kabar gembira akan kedatangan bulan Ramadhan dengan menjelaskan berbagai keutamaannya. Abu Hurairah ra berkata, “menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaithan-syaithan dibelunggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Selain itu, banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan. Hal ini dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam untuk memberi motivasi dan semangat kepada para sahabat dan umat Islam setelah mereka dalam beribadah di bulan Ramadhan.

Akhirnya, marilah kita sambut bulan Ramadhan yang sudah di ambang pintu ini dengan gembira dan dengan mempersiapkan diri untuk beribadah secara optimal. Selain itu kita berharap kepada Allah Subhanahu Wata’ala agar ibadah kita diterima, tentu dengan ikhlas dan sesuai Sunnah Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassallam. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan dan dapat meraih berbagai keutamaannya.

Oleh: Muhammad Yusran Hadi, LC, MA
 

Yang Gemar Membuka Aurat Sesama Mukmin, Bercermin dan Tabayyun Lebih Utama

Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Apabila melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya.” (Al-Bukhari)

Tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Selalu saja ada kekurangan. Boleh jadi ada yang indah dalam rupa, tapi ada kekurangan dalam gaya bicara. Bagus dalam penguasaan ilmu, tapi tidak mampu menguasai emosi dan mudah tersinggung, kuat di satu sisi, tapi lemah di sudut yang lain.

Dari situlah kita harus cermat mengukur timbangan penilaian terhadap seseorang. Apa kekurangan dan kesalahannya. Kenapa bisa begitu, dan seterusnya. Seperti apapun orang yang sedang kita nilai, keadilan tidak boleh dilupakan. Walaupun terhadap orang yang tidak disukai, yakinlah kalau di balik keburukan sifat seorang mukmin, pasti ada kebaikan di sisi yang lain.

Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang beriman agar senantiasa bersikap adil. Perhatikan firman-Nya berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al maidah [5]:8)

Dengan timbangan yang adil, maka penilaian kita bisa jadi  proporsional. tidak serta-merta menilai bahwa orang itu “pasti salah”. Mungkin ada sebab yang membuat ia lalai, lengah, dan kehilangan kendali. Bahkan mungkin jika kita berada di posisi dan situasi yang sama, kita pun tidak lebih bagus dari orang yang kita nilai.  Karena itu, lihatlah terlebih dahulu kekurangan dalam diri kita sebelum kita menilai kekurangan orang lain.

Ego manusia cenderung mengatakan kalau ”sayalah yang lebih baik dari yang lain”. Ego seperti inilah yang kerap membuat timbangan penilaian jadi tidak adil. Kesalahan dan kekurangan orang lain begitu jelas, tapi kekurangan diri sendiri tidak pernah terlihat. Padahal, kalau saja bukan karena anugerah Allah SWT yang menutup aib diri, tentu orang lain pun akan secara jelas menemukan aib kita.

Sebagian dari kita, ada yang bisa menahan diri untuk tidak membuka dan membicarakan aib orang lain, tapi ada juga sebagian dari kita yang sulit menahan diri untuk tidak mengabarkan keburukan seseorang kepada orang lain. Bagi sebagian orang, hal ini terasa sulit, karena lidah kerap kali usil. Selalu saja tergelitik untuk menyampaikan isu-isu baru yang menarik. Walau sebenarnya dia mengetahui, bahwa sesuatu yang menarik buat orang lain kadang buruk buat objek yang dibicarakan. Di situlah ujian seorang mukmin untuk mampu memilih dan memilah, mana yang perlu dikabarkan dan mana yang tidak. Perhatikan sabda Rasulullah SAW sebagai berikut: “Tidak akan masuk surga orang yang suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain.” (Al-Bukhari).

Sebaiknya, sebelum kita memberi reaksi terhadap aib orang lain, lihatlah dengan jujur seperti apa diri kita, lebih baik atau lebih buruk?  Apabila ternyata kita lebih baik, maka bersyukurlah, namun jika ternyata kita lebih buruk, maka segera bertobatlah. Inilah yang dimaksud dengan: ”bahwa seorang mukmin, adalah cermin bagi mukmin lainnya. Dan bila kita menemukan bahwa diri kita masih lebih baik dari saudara semukmin kita, jangan menjadikan kita sombong dan jangan menyebarkan aib orang lain”.

Mengapa Iblis yang dulu begitu mulia dan rajin bertasbih dan beribadah kepada Allah di surga dengan para malaikat akhirnya diusir Allah dari surga dan dikutuk selama-lamanya?? Karena Iblis itu sombong!!!

“Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? ”Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”Allah berfirman: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” (Shaad : 75-78)
Ketahuilah, orang yang gemar membicarakan aib orang lain, sebenarnya tanpa ia sadari, ia sedang memperlihatkan jati dirinya yang asli. Yaitu, tidak bisa memegang rahasia, lemah kesetiakawanannya, penggosip, penyebar berita bohong (karena belum tentu yang diceritakannya benar). Ketahuilah, semakin banyak aib yang ia bicarakan/sebarkan, maka semakin jelas keburukan diri si penyebar.

Perhatikan firman Allah SWT berikut ini: ”Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat … (QS. An-Nur: 19).

Dan perhatikan juga firman-Nya dalam ayat yang lain: ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hujurat [49] :12).

Perhatikan hadits berikut ini: ”Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim, maka Allah SWT akan membelanya dari neraka kelak di hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi 1932, Ahmad 6/450)

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: ”Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah mengghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

Jadi bila masih ada dari kita yang kadang masih suka membicarakan dan atau mengungkapkan aib orang lain (sekalipun aib itu benar) maka sadarlah segera, karena ghibah merupakan dosa besar yang hanya akan diampuni, setelah orang yang kita ghibah memaafkan kita. Dan biasanya, kebanyakan dari kita, sangat malu untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan kita,  pada orang yang telah kita bicarakan aibnya.

Semoga Allah menjadikan kita manusia yang lebih sibuk dengan aib sendiri ketimbang aib orang lain. Semoga Allah menjadikan kita manusia yang dijauhkan dari keinginan untuk menyebarkan fitnah demi memenuhi nafsu dan hawa kita. Semoga Allah menunjuki kita manakala kita menyimpang. Aamiin ya Robbal alamiin...

Sumber Artikel:
http://jalandakwahbersama.wordpress.com
http://zamzamisaleh.blogspot.co.id

Sumber Ganbar:
Google.co.id