Khutbah Idul Adha 1436H

Keteladanan Nabi Ibrahim AS.

 اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنـَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْـفِرُهُ, وَنَعُـوْذُبِاللَّهِ مِنْ شُرُورِاَنْفُسِـنَا وَسَـيِّـئَاتِ اَعْمَلِـنَا, مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِـلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْـلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, اَشْـهَدُ اَنْ لاَاِلَـهَ اِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَـرِيْكَ لَهُ, وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَعُوْذُبِاللَّهِ مِنَ اشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, يَااَ يُّـهَاالَّذِيْنَ آمَنُوااتَّـقُوْاللَّهَ حَقَّ تُقَا تِه ِوَلاَتَمُوْ تُـنَّ اِلاَّ وَاَنْـتُمْ مُسْلِمُوْنَ, يَااَ يُّـهَاالنَّاسُ اتَّـقُوارَبَّكُم الَّذِخَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَازَوْجَهَاوَبَثَّ مِنْهُمَارِجَالاًكَثِيْراًوَنِِسَاءًوَاتَّـقُواللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالأَرْحَامَ اِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِـيْـبًا, يَااَ يُّـهَاالَّذِيْنَ آمَنُوااتَّقُوْاللَّهَ وَقُوْلُوْ قَوْلاً شَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالُكُمْ وَيَغْـفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًاعَظِيْـمًا, اَمَّـابَعْـدُ, فَإِنَّ اَصْـدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرُ الهَديِ هَـدْيُ مُحَمَّدٍصَلَى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَسَلَّمَ, وَشَـرَّالأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا,وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَـةٌ, وَكُلَّ بِدْعَـةٍضَلاَ لَةٌ, وَكُلَّ ضَلاَ لَةٍ فِي النَـارِ اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ 

Hadirin Yang Berbahagia, 
Kehadiran kita di pagi ini, semarak dengan gegap gempitanya takbir, tahmid dan tahlil membahana memenuhi persada. Kita penuhi panggilan Ilahi, kita tegakkan sunnah, kita rayakan hati yang mulia 'Iedul Adha, Hari Raya Qurban, hari dimana pengorbanan memperoleh tempat sedemikian mulia. Kita berkumpul hari ini mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim 'alayhis salam, dan juga mendukung pengorbanan saudara saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji di tanah suci. 
Sadar akan betapa besarnya nilai sebuah pengorbanan, akan mampu menyalakan semangat yang mulai redup. Berkorban adalah ungkapan cinta yang paling tulus, ungkapan cinta yang paling agung. Sebab setinggi tinggi cinta adalah rela berkorban untuk untuk yang dicintainya. Marilah kita kenang kemuliaan sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebuah kenyataan agung dan mulia. Semoga dengan mengenangnya kita tergerak untuk mengikuti keteladanannya. Sebab memang beliau adalah uswah bagi kita semua. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad Saw harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah Swt berfirman:
 قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْ اِبْرَهِيْمَوَالَّذِيْنَ مَعَهُ ... 
"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia" 

Pengorbanan, yang merupakan tema besar kehidupan, telah diperagakan begitu mempesona oleh kedua nabi mulia ini. Dan memanglah demikian, dalam hidup setiap detik adalah pengorbanan, setiap kita berkorban, tidak ada seorang pun yang tidak mengorbankan sesuatu, untuk hal yang dikerjakan dan ingin diwujudkannya. Tinggal masalahnya, apa yang kita korbankan, dan untuk mencapai apa? Pengorbanan yang mulia, adalah mana kala kita sanggup mengorbankan hal yang lebih rendah nilainya, untuk merealisasikan tujuan yang lebih tinggi. 

Seorang pelajar yang sukses, telah berani mengorbankan sebagian besar waktu bermainnya untuk menguasai apa yang dipelajarinya. Jangan disangka seorang pelajar yang gagal tidak berkorban, mereka pun telah berkorban, hanya sayang, yang ia korbankan adalah waktu belajarnya, untuk kesenangan bermain yang hanya sementara. Nabi Ibrahim dihadapkan pada dua pilihan, antara menegakkan perintah Allah dan cinta. Bila ia memilih tegaknya perintah Allah, maka nyawa anaknya yang terancam. Tetapi bila ia berpihak pada cinta anak, maka perintah Allah yang terlantar.
 Demikian juga Nabi Ismail, ia pun dihadapkan pada dua pilihan, (1) Terlaksananya perintah Allah atau (2) Cinta dirinya. Dirinya mati demi tegaknya hukum Allah, atau ia boykot hukum Allah asal dirinya tetap hidup ? Setiap detik dalam hidup adalah memilih dan berkorban, hidup adalah seni memilih, mana yang harus ddipetahankan dan mana yang harus dikorbankan. Kita tidak bisa mempertahankan sesuatu, tanpa mengorbankan sesuatu yang lain. 
Dan keluarga Nabi Ibrahim telah memberi teladan sepanjang abad, bagaimana kita memilih yang utama untuk dipertahankan. Sampai ke tingkat pilihan yang paling ekstrim sekalipun, demi tegaknya perintah Allah, Nabi Ibrahim rela menumpahkan darah, walaupun harus darah anaknya. Untuk menegakkan perintah Allah Nabi Ismail berani melihat darah mengalir, walaupun itu aliran darah anaknya sendiri!

 اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ 

Sidang Idul Adha yang berbahagia, bila ke dua Nabi yang mulia, mampu memilih yang terbaik untuk dipertahankan, yakni perintah Allah melebihi apapun di dunia ini. Maka bagaimana dengan kita? Apa yang terjadi dalam lingkungan muslimin, justru malah perintah Allah yang berceceran, terhambur tak dimuliakan, justru karena kebanyakan muslimin malah mengorbankan perintah Allah demi kepentingannya sendiri-sendiri. Pantas bila Rasulullah saw, mengeluhkan keadaan ini kepada Allah, sebagaimana disebutkan Quran :
 وَقَالَ الرَّشُوْلُ : يَارَبِّ اِنَّ قَوْمِىاتَّخَذُواهَذَاالْقُرْاَنَ مَهْجُوْرًا 
"Dan berkata Rosul : Ya Robby sesunggunya kaumku telah menjadikan Al Quran ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan" Mari kita perhatikan keadaan muslimin sekarang ini, setelah Rasulullah mencurahkan seluruh tenaganya untuk membangun peradaban Islam, hingga tegak berkibar di Madinah. Setelah Keringat dan darah bercucurah dari tubuh beliau yang mulia, hingga Islam menjadi mercusuar sejarah, setelah raga Sayid Hamzah terkoyak di Padang Uhud. 
Setelah badan Ummu Yasir terbelah, setelah semua pengorbanan ini terjadi. Hari ini banyak dari kaum muslimin yang membiarkan peradaban Islam terburai satu persatu, mulai dari hukum Islam yang adil, hingga ritual sholat, semuanya tidak diperdulikan, semuanya dibiarkan terkubur peradaban bangsa lain. Beginikah muslimin memilih apa yang dikorbankannya? Mereka mengorbankan perintah Allah, mereka mengorbankan karya Nabi dan para shahabat demi kepentingan sehari harinya? 

Mengapa kita tidak mau mengorbankan sedikit dari waktu kita di depan TV untuk membaca buku-buku Islam. Mengapa kita tidak mau mengorbankan sedikit dari waktu waktu hiburan kita untuk duduk berdo'a, berdzikir dan menghaluskan perasaan Keimanan kita? Mengapa kita tidak mau mengorbankan sedikit dari penghasilan kita untuk mengembangkan agama ini. Mengapa kita tidak mau mengorbankan sedikit dari fikiran kita untuk kejayaan Islam ini. Mengapa malah kemajuan dan kejayaan Islam yang kita korbankan untuk kesenangan yang remeh, yang selintas dan tak bermakna itu? 

Hadirin Sidang Idul Adha yang berbahagia, Mari kita berkaca pada teladan mulia Nabi Ibrahim. Ketika perintah itu datang, dalam hati Nabi Ibrahim berkecamuk perang antara cinta dan tugas, tegakah seorang bapak yang sudah lama meninggalkan anak yang dicintainya, sekarang harus menyembelih anak itu dengan tangannya sendiri? Perasaan siapapun akan sepakat mengatakan "Tidak". Tapi ini perintah Ilahi, yang bukan harus direspon dengan rasa, tapi oleh iman. 
Bukan urusan tega dan tidak tega, bukan urusan sayang dan tidak sayang, bukan perkara kejam dan tidak kejam, tetapi ini perkara perintah Allah, tugas dari pemilik langit dan bumi, yang seluruh jiwa manusia dalam genggaman tanganNya. Diukur dengan perasaan, siapa yang tidak sayang kepada anak? Tapi ditakar dengan iman, ini perintah Allah yang memberi nyawa pada anak dan pada dirinya. Berkali kali perintah itu datang lewat mimpi Nabi Ibrahim, beliau masih bimbang. 
Kalaupun hati sudah yakin ini urusan yang mesti direspon dengan iman, tapi bagaimana dengan sang anak, bisakah dia menghadapi kenyataan ini. Dirinya harus terkapar bersimbah darah oleh tangan ayahnya sendiri, yang dicintainya, yang dirindukannya, yang selama ini meninggalkan dirinya? 

Akhirnya dikuatkan hati Nabi Ibrahim, dipanggilnya anak penyejuk hati belahan jiwa itu : "Anakku ... Sungguh aku melihat dalam mimpi, bahwa aku diperintah Allah untuk menyembelihmu, bagaimanakah pandanganmu ?" Di luar dugaan, anak remaja belasan tahun itu, bukannya takut, bukannya berteriak menangis melolong-lolong ketika mendengar dirinya akan disembelih. Remaja Isma'il dengan tegar berkata :
 يا أبتي افعل ما تؤمر ستجدنى ان شاءالله من الصبرين 
Wahai bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang orang yang bershabar (QS.37:102) 

Hadirin Sidang 'Iedul Adha yang berbahagia, 
Pagi ini kita membayangkan sebuah pertunjukan iman yang demikian kukuh, sebuah sikap iman yang demikian tegar. Keluarga Nabi Ibrahim, tidak bermain main dengan perasaannya, keluarga Nabi Ibrahim tidak mengukur perintah Allah dengan sayang dan kasihan, tapi melihat perintah sebagai "PERINTAH", yang bagaimanapun berat terasa dalam jiwa, Tugas mestilah tetap ditunaikan. 
SubhanAllah, demikianlah disiplin iman yang sejati. Betapa tulus dan teguhnya kedua nabi ini berhadapan dengan perintah Allah, mereka faham mana yang harus dikorbankan untuk kepentingan yang lebih besar. Episode nabi Ibrahim a.s dan Ismail bukti kesabaran/ketegaran/komitmen atas perintah Sang Maharaja langit dan bumi. Maka patutlah Allah memberikan pujian kepada Ibrahim dengan pujian yang baik dan contoh untuk orang-orang yang datang kemudian.
 شَلاَمٌ عَلَى اِبْرَهِيْم 
" Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim."
 اِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا المُؤمِنُونَ 
" Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba kami yang beriman."
 اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ 

Hadirin Yang Berbahagia, 
Qurban dalam konsep Islam sesungguhnya refleksi dari ketaqwaan seseorang qurban dalam makna pengorbaan baik berupa harta dan jiwa serta apapun yang ada pada diri kita harus disadari oleh ketaqwaan yang benar.
 لَنْ يَنَالُ اللَّهَ لُحُوْمُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَقْوَى مِنْكُمْ 
"Daging-daging dan darah Qurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah dari kamulah yang dapat mencapainya.
 اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ 
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertqwa." 

Taqwa adalah penentu diterima atau tidaknya amal seseorang, Seorang muttaqin adalah seorang yang: 1. Takut hanya kepada Allah diluar itu tidak ada yang ditakuti. 2. Berhati-hati, menjaga diri dalam tiap-tiap tingkah laku jika ingin melaksanakan amal perbuatan, baik yang wajib ataupun sunnah. Jadi seorang muttaqin disamping tahu dan paham akan batas-batas hukum dan syariat Islam, juga punya nilai kesanggupan untuk berpihak kepada kebenaran dan sanggup berqurban dengan apa saja yang dimilikinya dengan rela dan suci hati, hanya semata-mata patuh, tunduk kepada Allah Swt demi tegaknya kalimat Allah dibumi ini.

 اَللَّهُ اَكْـبَرُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ,لاَاِلَهَ اِلاَّاللَّهُ, اَللَّهُ اَكْـبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَـمْدُ 
Hadirin Yang Berbahagia, 
Demikianlah makna taqwa yang sebenarnya. Darah yang tertumpah lewat penyembelihan hewan qurban (pengorbanan seseorang) sekali-kali tidak tidak sampai kepada Allah sebagai amal sholeh tanpa didasari oleh nilai ketaqwaan yang benar. Sejarah membuktikan ketika nabi Ibrahim a.s dan Ismail menerima perintah Allah Sang Maharaja langit dan bumi. Dia pasrahkan jiwa dan raga, ketha'atannya dengan harapan Allah membenarkan imannya. 

Sebagaimana firmanNya : "Sesungguhnya kamu (wahai Ibrahim) telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." 
Sikap membenarkan perintah, melaksanakannya dengan penuh kesetiaan adalah buah dan bukti dari taqwa. Sehingga ketika seseorang memotong puluhan hewan Qurban, tapi tidak membenarkan hukum-hukum Allah, tidak bersetia kepada Islam sebagai satu-satunya solusi bagi kedamaian bumi. Maka pemotongan hewan tadi tidak ubahnya sebagai atraksi penjagalan hewan, bukan ujud dari ketaqwaan. 

Karena itu, dari mimbar ini saya ingatkan, hendaknya kaum muslimin dan muslimat yang tahun ini beribadah Qurban, jadikanlah amal ini sebagai amal pelengkap, dari seluruh bakti kita kepada Allah, dari seluruh pengagungan kita terhadap segala perintah Allah. Dan setelah ibadah Qurban ini dilaksanakan, pertahankanlah kualitas ibadah dan disiplin kita untuk tetap menjalankan perintah-perintah Islam seluruhnya. Sehingga dengan demikian, kualitas kita tetap utuh sebagai sebaik-baik makhluq. Sebaliknya, sekalipun hari ini belasan hewan ternak, kita sembelih, tapi jika kita tidak peduli dengan kebenaran Ilahi yang harus ditegakkan, tidak berusaha belajar, memahami dan mengerti ayat-ayat Allah yang harus kita jadikan pola hidup di muka bumi, maka posisi dan kualitas hewan yang disembelih itu digantikan oleh kita sendiri yang menyembelihnya, malah kita sekarang yang dianggap Allah senilai dengan binatang ternak, na'udzubillahi mindzalik. 

Perhatikan firman Allah ini: "Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." 

Mari kita tekadkan, bahwa semenjak saat ini, kita berhenti mengikuti hawa nafsu kita, ataupun hawa nafsu orang lain, tapi kita tundukkan diri ini pada kebenaran Islam yang dibawa Rosulullah saw.
 انما كان قول المؤمنين اذا دعواالىالله ورسوله ليحكم بينهم ان يقولوا سمعنا واطعنا واولئك هم المفلحون 
"Sesungguhnya perkataan orang yang beriman, apabila mereka diseru kepada Allah dan RosulNya, agar aturan Allah diperlakukan atas mereka. Satu kata yang terucap oleh mereka : Sami'na wa atho'na -Kami dengar ya Allah, dan kami ta'at !! Mereka itulah orang orang yang beruntung (QS.24:51)

 وما كان لمؤمن ولا مؤمنة اذا قضى الله ورسوله امرا ان يكون لهم الخيرة من امرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضللا مبينا "
Tidaklah pantas bagi seorang laki laki yang beriman, tidak pula patut bagi perempuan yang beriman, manakala Allah telah dan rosulNya telah memutuskan suatu aturan buat mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain/alternatif lain untuk mengatur urusan mereka tersebut. Sebab barang siapa yang mengambil alternatif lain setelah Allah dan RosulNya menetapkan suatu aturan, maka sungguh dia telah tersesat dengan sejauh jauhnya kesesatan yang nyata (QS.33:36) 

Ini pelajaran buat kita, ini tauladan yang baik, uswah hasanah yang wajib kita tiru, berusaha dan belajar untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang Ibrahimiyyah : Mari kita songsong yang lebih Akbar, kita tujukan perhatian kita ke sana, mari kita bebaskan diri kita dari sesuatu yang gampang sirna. Jangan sampai itu menghalangi tekad ibadah kita, jangan sampai itu menghambat terlaksananya perintah Allah dalam diri kita ! Anak, isteri, keluarga, harta ataupun tempat tinggal, harus kita usahakan agar semua itu tidak menghalangi ta'at kita kepada Allah, bahkan semua itu mesti diarahkan pada satu sikap yang sama, mengabdi, mengabdi kepada Ilahi ! 

Seperti Nabi Ibrahim, keberadaan isteri, anak bahkan apa saja semuanya jadi ibadah. Kita mesti pintar pintar memanfa'atkan waktu dan kesempatan, peluang dan semua yang kita miliki untuk mengabdi. Sebelum terlambat, sebelum ajal menjelang, sebelum kematian merenggut seluruh kesempatan tersebut !!! Jangan sampai kita terlambat seperti orang yang dikisahkan Al Quran, baru sadar setelah di akhirat, baru menyesal sesudah diri dikurung api, baru bertekad beramal sholeh setelah ada dalam neraka :

 وهم يصطرخون فيها ربنا اخرجنا نعمل صالحا غيرالذي كنا نعمل 

Mereka berteriak teriak dalam neraka : Ya Allah, keluarkan kami, kami berjanji, andai Engkau keluarkan kami, kami akan beramal sholeh, berlainan dengan amal yang telah kami lakukan dahulu. Apakah Allah menerima permohonan ini, tidak pula mema'afkan mereka atas kesadaran yang terlambat ini ? Tidak ! Allah Maha Adil, keputusan telah dijatuhkan, orang yang lalai dengan peringatan harus menerima hukuman ! 
Allah jawab mereka dengan satu kata putus :
 اولم نعمركم ما يتذكر فيه من تذكر وجاأكم النذير 
Mengapa baru meminta sekarang, bukankah dulu Kami telah memberi umur kepadamu ? Yang cukup dengan umur itu untuk sadar kalau kalian mau sadar. Bahkan bukan sekedar diberi waktu, telah datang pula kepada kalian pemberi peringatan. Namun semua itu kalian abaikan, waktu kau sia siakan, pemberi peringatan kau tidak pedulikan, engkau telah dzalim, menganiaya dirimu sendiri
 فذوقوا فما الظالمين من نصير 
Sekarang rasakan sajalah 'adzab, dan tidak ada bagi orang orang yang dzalim itu seorang penolong pun. (QS.35:37 

Hadirin Sidang Ied yang berbahagia, 
hidup ditakar waktu, nafas kita dijatah, kesempatan kita terbatas. Berhentilah berangan angan, lepaskan beban berat masa lalu, siapapun kita sebelum ini, bagaimanapun kelakuan kita sebelum ini, baiklah itu merupakan masa lalu kita, namun dari sa'at ini ke depan, kita bertekad untuk terus membenahi diri. Mulai mencoba menapaki jejak Nabi Ibrahim. Mencari kebenaran semata mata demi kebenaran itu sendiri, tidak mudah goyah dan terlena oleh sesuatu yang bakal sirna, serta rindu pada keridhoan Al Akbar Allah Al aziizul Qohhar, Dia Yang Maha Besar, Yang Maha Perkasa. lagi Tak Terkalahkan.

 ياايهاالذين امنوا لا تلهكم اموالكم ولا اولدكم عن ذكرالله ومن يفعل ذالك فألئك هم اخسرون 
Wahai orang orang yang beriman, janganlah harta hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang orang yang merugi (QS.63:9) 
Dari uraian khutbah kita yang singkat pada pagi ini, dapat kita simpulkan bahwa sebagai seorang muslim kita sangat dituntut untuk menunjukkan komitmen atau keterikatan kita kepada Allah Swt dengan nilai-nilai Islam yang telah diturunkan-Nya sebagai apapun kita dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, karenanya Rasulullah Saw berpesan kepada kita agar selalu bertaqwa kepada Allah Swt dimanapun kita berada. Akhirnya marilah kita tutup ibadah shalat Id kita pada pagi ini dengan sama-sama berdo'a

: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَا لِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صَغِيْرًا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
 Ya Allah Ya Robbana, ampunilah kami, ampunilah dosa-dosa orang tua kami, sayangi mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami sejak kami masih kecil. Ya Allah, ampuni juga dosa kaum muslimin dan muslimat baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
 اَللَّهُمَّ رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
Ya Allah Robbana, telah banyak dosa dan kezaliman yang kami lakukan, ampunilah kami ya Allah, betapa hinanya kami manakala Engkau tidak mengampuni kami
. اَللَّهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَةِ وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَةِ
Ya Allah, tunjukkan kepada kami yang benar itu benar dan berikan kekuatan kepada kami untuk bisa melaksanakannya. Ya Allah, tunjukkan kepada kami yang bathil itu bathil, yang salah itu salah dan berikan kekuatan kepada kami untuk bisa menjauhinya.
 اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلاً صَالِحًا مَقْبُوْلاً وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرً
Ya Allah Ya Robbana, jadikanlah jamaah haji kami yang kini telah menunaikannya di Tanah Suci, haji yang mabrur, sa'i yang diterima, dosa yang diampuni, amal shaleh yang diterima dan usaha yang tidak mengalami kerugian
 اَللَّهُمَّ اَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِىاْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَاَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلأَخِرَةِ
Ya Allah, baikkanlah kesudahan segala urusan kami, jauhkanlah dari kehampaan dan kehinaan di dunia dan siksa di akhirat.
 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِىاْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Allah, anugerahkanlah kami kehidupan di dunia yang baik dan akhirat yang baik serta hindarkan kami dari azab neraka.
 ربنا افرغ علينا صبرا وثبت اقدامنا وانصرنا على القوم الكا فرين 
يا حي يا قيوم يا جبار يا قهار خذ حقنا ممن ظلمنا و عدى علينا
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين 
والحمد لله رب العا لمين


No comments:

Post a Comment