Penting! Menggapai Malam Lailatul Qadr
Mengenai pengertian lailatul qadar, para ulama ada beberapa versi pendapat.
Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Ada pula
yang mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena
ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam
tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan
bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab
yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia. Semua makna
lailatul qadar yang sudah disebutkan ini adalah benar.
Keutamaan
Lailatul Qadar
Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya
kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ
مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang
diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu
dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4). Malam
yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana
ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam
kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ
شَهْرٍ , تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ
كُلِّ أَمْرٍ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu
turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
(QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada
malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun
membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar.
Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan
di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid, Qotadah
dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu
bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan
puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.
Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan
pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena
iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan
diampuni.”
Kapan
Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan,
sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى
الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan
Ramadhan.”
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan
daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى
الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir
di bulan Ramadhan.”
Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan
pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai
pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu
terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan
waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun
tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang
berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak
dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh
sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ
مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى
، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan
Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” Para
ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti
terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal
ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti
malah orang-orang akan bermalas-malasan.
Do’a di
Malam Qadar
Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih
do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagaimana terdapat
dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ
عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku
mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di
dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul
‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang
menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”
Tanda
Malam Qadar
Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ
طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ
حَمْرَاء
“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak
begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak
begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.”
Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan
ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak
didapatkan pada hari-hari yang lain.
Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada
sebagian sahabat.
Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar.
Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata,
هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ
سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ
يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.
“Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh
(dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari
terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.”
Bagaimana
Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?
Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput
dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh
merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim
mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ
شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari
1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka
dia akan luput dari seluruh kebaikan.”
Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah
ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah.
Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh
pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu
yang lainnya.”
Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi
istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan
pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم –
إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ
أَهْلَهُ
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari
terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para
istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan
keluarganya.”
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada
malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk
melaksanakan shalat jika mereka mampu.
Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah
menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan tidak mesti seluruh malam.
Bahkan Imam Asy Syafi’i dalam pendapat yang dulu mengatakan, “Barangsiapa yang
mengerjakan shalat Isya’ dan shalat Shubuh di malam qadar, maka ia berarti
telah dinilai menghidupkan malam tersebut”. Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan
hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an. Namun
amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar
berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam
lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya
yang telah lalu akan diampuni.”
Bagaimana
Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?
Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak,
“Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur
(namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian
dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa
mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan
mendapatkan bagian malam tersebut.”
Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap
bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas
tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh
melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu
adalah,
1. Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf.
2. Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa
ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya.
3. Memperbanyak istighfar.
4. Memperbanyak do’a.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: https://rumaysho.com
============================================================
Ponpes Al Ikhwan siap menerima Zakat, Infaq, Shadaqoh dari Bapak/Ibu sekalian terutama di bulan ramadhan tahun ini.
Semoga apa yang telah dikeluarkan akan menjadi penyempurna sekaligus pelengkap amal sholih yang akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. In sya Allah.
Lebih lanjut Klik Disini!
Lebih lanjut Klik Disini!
Post Comment
No comments